Social Comparison dan Uang: Efek Membanding-bandingkan
Memahami bagaimana kebiasaan membandingkan gaya hidup dapat memengaruhi pengeluaran, utang, risiko, dan kesehatan keuangan.
Di tengah tren saat ini, semakin banyak orang terdorong untuk menunjukkan diri, terutama melalui media sosial. Semakin banyak tren terbentuk, semakin besar pula dorongan untuk terlihat dan diterima. Paparan media sosial yang masif dapat menciptakan efek domino: kita mulai membandingkan gaya hidup sendiri dengan orang lain. Peran influencer, artis, KOL, dan model juga membuat standar gaya hidup tertentu terasa semakin dekat sekaligus seolah perlu dikejar. Dalam kondisi tertentu, dorongan ini dapat ikut memicu perilaku konsumtif, bahkan penggunaan pinjaman online demi mempertahankan gaya hidup tertentu. Lalu, bagaimana keinginan untuk “menyamai” gaya hidup orang lain dapat menjadi bumerang bagi kondisi keuangan kita?
Dari Perbandingan menjadi pengeluaran
Jalur kausalnya cukup jelas dalam literatur. Perbandingan ke atas menciptakan kesenjangan antara standar hidup yang dirasakan wajar dan pendapatan aktual, lalu kesenjangan itu ditutup dengan konsumsi dan utang. Studi pada pengguna Instagram menemukan bahwa rasa iri serta persepsi norma sosial di platform tersebut mendorong konsumsi pamer (conspicuous consumption) dan pengeluaran berlebih. Penelitian terhadap dewasa muda Malaysia memperlihatkan pola serupa dalam bentuk "spending spiral": perbandingan dengan influencer meningkatkan materialisme, yang kemudian bermuara pada pembelian kompulsif, impulsif, dan pamer, hingga berujung pada tekanan finansial (Azhar, Che Wel, dan Hamid, 2026).
Besarannya tidak sepele. Survei Bankrate mencatat orang dewasa di Amerika Serikat menghabiskan sekitar 71 miliar dolar untuk pembelian impulsif berdasarkan apa yang mereka lihat di media sosial dalam dua belas bulan. Survei MassMutual menemukan 39 persen responden merasa terdorong berbelanja lebih banyak ketika melihat orang lain melakukannya di media sosial, dengan efek terkuat pada generasi muda (Bankrate, 2023).
Dari Konsumsi ke Utang dan Risiko
Dampak perbandingan sosial tidak berhenti pada belanja harian; ia mengubah struktur neraca rumah tangga. Eksperimen laboratorium yang memisahkan dua mekanisme — kepedulian terhadap citra sosial dan informasi tentang perilaku teman sebaya — mengonfirmasi keterkaitan antara perbandingan sosial dan tingginya utang rumah tangga. Pada level makro, ketimpangan pendapatan lokal terbukti meningkatkan permintaan kredit konsumtif karena rumah tangga berusaha "mengejar" standar hidup tetangga yang lebih kaya; riset Reserve Bank of Australia menemukan rumah tangga berpendapatan menengah yang tidak menghadapi kendala likuiditas justru meminjam lebih banyak ketika ketimpangan lokal naik (Nguyen, 2022). Artinya, "keeping up with the Joneses" bukan sekadar kiasan moral, melainkan variabel ekonomi yang terukur (Ahamed dan Limbu, 2023; Morgan dan Christen, 2003).
Perbandingan sosial juga menurunkan kualitas pengambilan keputusan itu sendiri. Sebuah eksperimen psikologi menunjukkan bahwa kehadiran perbandingan sosial diasosiasikan dengan keputusan finansial yang lebih buruk dan lebih berisiko, terlepas dari apakah interaksinya berlangsung sesekali atau berulang. Di ranah investasi, platform social trading seperti eToro menjadikan perbandingan sebagai fitur produk, dengan konsekuensi pada pengambilan risiko dan kepuasan investor (Grohmann dan Koch, 2022).
Lifestyle inflation: Wajah Jangka Panjang
Efek yang paling merusak justru bekerja pelan. Lifestyle inflation — naiknya pengeluaran seiring naiknya pendapatan — didorong antara lain oleh perbandingan sosial dan paparan media, dan bila tidak terkendali menggerus kesehatan keuangan pribadi meski penghasilan meningkat. Pada remaja, tekanan teman sebaya dan perbandingan dengan influencer berhubungan positif secara signifikan dengan lifestyle inflation. Konsekuensinya: kenaikan gaji tidak pernah terasa cukup, karena titik acuannya bergerak lebih cepat daripada pendapatan (Khanna, 2026; Indhujaa dan Geetha, 2026).
Perbandingan Sosial Tidak Selalu Buruk
Menariknya, bukti tidak seluruhnya negatif. Studi terhadap 301 orang dewasa di Dhaka menemukan orientasi perbandingan sosial justru berasosiasi positif dengan perilaku pengelolaan keuangan, dimediasi oleh efikasi diri finansial dan diperkuat oleh sosialisasi keuangan — kemungkinan melalui perbandingan ke bawah dan efek belajar dari orang lain. Pendekatan norma sosial pun dapat dimanfaatkan secara sengaja: dua eksperimen berskala besar menunjukkan umpan balik sosial atas keputusan menabung mampu meningkatkan perilaku menabung. Perbandingan sosial, dengan kata lain, adalah energi yang arahnya bisa dibelokkan: destruktif bila objeknya konsumsi, produktif bila objeknya tingkat tabungan atau pelunasan utang (Raue, D’Ambrosio, dan Coughlin, 2019).
Mengubah Tolok Ukur
Ada tiga implikasi praktis yang dapat ditarik. Pertama, literasi keuangan tidak cukup hanya bersifat teknis; kita juga perlu memahami titik acuan sosial yang memengaruhi keputusan. Kedua, lingkungan informasi perlu dikelola secara aktif. Mengurangi paparan yang terus-menerus memicu perbandingan konsumtif dapat menjadi bagian dari strategi menjaga anggaran, bukan sekadar higiene digital. Ketiga, mekanisme perbandingan yang sama dapat diarahkan ke perilaku yang lebih sehat, misalnya membandingkan kemajuan menabung atau pelunasan utang, bukan gaya hidup.
Perbandingan sosial tidak dapat dihapus dari cara manusia menilai dirinya. Namun keuangan pribadi yang sehat menuntut satu pergeseran sederhana: memindahkan tolok ukur dari gaya hidup orang lain yang tampak di layar ke tujuan finansial yang kita tetapkan sendiri. Selama titik acuan itu berada di luar diri, pendapatan sebesar apa pun akan selalu terasa kurang.
PERSPEKTIF YFD
Masalahnya bukan bahwa kita membandingkan diri. Yang perlu diperhatikan adalah: apa yang kita jadikan pembanding, dan apakah tolok ukur itu membantu atau justru menjauhkan kita dari tujuan finansial sendiri. Social comparison dapat menjadi sinyal untuk refleksi, tetapi keputusan keuangan tetap perlu kembali pada kapasitas, prioritas, dan tujuan pribadi.
Refleksi Singkat
Sebelum mengikuti pembelian, tren, atau gaya hidup tertentu, coba tanyakan: “Apakah saya benar-benar menginginkan ini, atau saya sedang berusaha mengejar standar hidup orang lain?”
Artikel ini merupakan Supporting Article Minggu 10 dan melanjutkan pembahasan dari artikel Pillar “FOMO Finansial: Kenapa Manusia Mudah Mengikuti Tren?” .
Untuk memahami pola finansial Anda secara lebih spesifik, Financial Health Check Up bersama tim YFD juga dapat menjadi langkah awal.
Catatan: Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan asesmen atau konsultasi profesional yang disesuaikan dengan kondisi individu.
Daftar Referensi
Ahamed, A. J., & Limbu, Y. B. (2024). Role of social comparison orientation on financial management behavior, 38(3), 349. Emerald Publishing.
Azhar, K. A., Che Wel, C. A., & Ab Hamid, S. N. (2026). Social comparison with influencers and the spending spiral: Materialism, buying behaviour, and financial stress among Malaysian young adults. International Journal of Academic Research in Business and Social Sciences, 16(3), 792–815. https://doi.org/10.6007/IJARBSS/v16-i3/27946
Bankrate. (2023). Survey: 48% of social media users have impulsively purchased a product seen on social media.
Barrós-Loscertales, A., Espín, A. M., & Perales, J. C. (2016). Social comparisons are associated with poorer and riskier financial decision making, no matter whether encounters are sporadic or repeated. The Spanish Journal of Psychology, 19, E57. https://doi.org/10.1017/sjp.2016.55
Grohmann, A., & Koch, M. (2022). The effect of social comparison on debt taking: Experimental evidence (DIW Discussion Paper No. 1996). Deutsches Institut für Wirtschaftsforschung.
Indhujaa, G., & Geetha, A. (2026). The impact of lifestyle inflation on personal finance: A comprehensive overview. International Journal of Innovative Research in Management Studies, 8(2), 143–146.
Khanna, K. (2026). Peer pressure and lifestyle inflation: Analyzing the impact of social comparison on financial behavior among high school students. International Journal of Advanced Research, 14(8), 938–963.
Morgan, R. M., & Christen, M. (2003). Keeping up with the Joneses: The effect of income inequality on demand for consumer credit (INSEAD Working Paper No. 2003/67/MKT). INSEAD.
Nguyen, K. (2022). Do Australian households borrow to keep up with the Joneses? (Research Discussion Paper No. 2022-06). Reserve Bank of Australia.
Raue, M., D'Ambrosio, L. A., & Coughlin, J. F. (2019). The power of peers: Prompting savings behavior through social comparison. Journal of Behavioral Finance, 21(1), 1–13. https://doi.org/10.1080/15427560.2019.1587762