FOMO Finansial: Kenapa Manusia Mudah Mengikuti Tren?
Memahami akar psikologis FOMO, bagaimana FOMO memengaruhi keputusan finansial dan investasi, serta langkah-langkah untuk mengelola emosi agar tidak mudah terjebak dalam tren.
Di era ini, jargon Fear of Missing Out (FOMO) sudah terdengar tidak asing di telinga kita. FOMO bisa bermunculan di mana saja dan sudah menjadi hal yang umum. FOMO bukan hanya tren yang ada di zaman ini, tetapi merupakan fenomena psikologis yang telah banyak diteliti dalam konteks pengalaman sosial dan penggunaan media digital (Gupta & Sharma, 2021; Elhai et al., 2021).
Kalau di era 2020-an ini banyak tren yang bertebaran dan semua orang jadi ikut hingga terbentuk komunitas yang kuat di dalamnya. Misalnya, sebelum tahun 2020-an orang banyak tertarik pada komunitas otomotif, mengikuti gym, pelatihan CrossFit, era streetwear seperti Supreme dan BAPE, investasi dan asuransi, hingga kegiatan Multi-Level Marketing. Sekarang tren berkembang ke aktivitas seperti padel, lari marathon, HYROX, kartu Pokémon, berkain batik dan berkebaya, hingga dalam dunia finansial seperti investasi saham, trading, dan startup business.
Yang menjadi pertanyaan mendasarnya mungkin bagi semua orang adalah: mengapa hal ini bisa terjadi? Kenapa FOMO bisa eksis dan menjaring orang untuk mengikuti sebuah tren? Apa dampak yang bisa terjadi dari FOMO terhadap kualitas hidup seseorang?
1. Manusia sebagai Makhluk Sosial dan Rasa Dimiliki
Manusia adalah makhluk sosial dengan segala keunikannya. Manusia memiliki keinginan untuk berkumpul dan memiliki satu tujuan yang sama. Dalam psikologi, kebutuhan untuk terhubung dan merasa menjadi bagian dari kelompok dikenal sebagai need to belong atau sense of belonging. Kebutuhan ini merupakan salah satu faktor yang berkaitan dengan munculnya FOMO.
Dalam konteks ini, FOMO dapat muncul sebagai kekhawatiran bahwa orang lain sedang mengalami sesuatu yang menyenangkan sementara kita tidak terlibat di dalamnya. Penelitian Alabri (2022) menemukan bahwa need to belong merupakan prediktor penting FOMO; semakin kuat kebutuhan seseorang untuk merasa diterima dan menjadi bagian dari kelompok, semakin tinggi kecenderungan FOMO yang dilaporkan. Penggunaan media sosial dapat menjadi salah satu jalur yang memperkuat hubungan tersebut.
Inilah yang dapat menjelaskan mengapa manusia ingin terlibat dalam tren. Menjadi bagian dari komunitas dapat memberikan rasa diterima, terhubung, dan memiliki tempat dalam kehidupan sosial.
2. Tren dan Kepuasan Diri
Manusia menyukai pengalaman yang memberikan rasa menyenangkan dan bermakna. Karena itu, ketika sebuah tren menawarkan pengalaman baru, pengakuan sosial, atau kesempatan untuk mendapatkan sesuatu yang dianggap bernilai, seseorang dapat terdorong untuk mengikutinya.
Secara biologis, sistem reward otak memang berperan dalam proses belajar dari pengalaman yang menyenangkan dan memotivasi perilaku untuk mengulang atau mencari pengalaman tertentu. Ketika merasa puas manusia akan menghasilkan beberapa senyawa diotaknya, seperti dopamine, serotonin, dan oksitosin. Dopamine ini adalah senyawa yang memberikan rasa puas, serotonin yang membuat rasa tenang, dan oksitosin membuat rasa senang, memberikan keseluruhan efek kepuasan dalam hidup. Sisi negatifnya adalah dalam aspek dopamine ini bisa memberikan efek candu yang membuat orang akan mencari terus menerus.
Namun, hubungan ini tidak sesederhana bahwa setiap rasa puas secara otomatis menghasilkan dopamine, serotonin, dan oksitosin dalam pola yang sama. Karena itu, lebih tepat melihat FOMO sebagai hasil interaksi antara proses reward, kebutuhan sosial, perhatian terhadap pengalaman orang lain, dan evaluasi terhadap diri sendiri.
Ketika pengalaman baru memberikan rasa menyenangkan sekaligus memperkuat rasa diterima dalam kelompok, seseorang dapat semakin terdorong untuk mencari pengalaman serupa. Di sinilah tren dapat terus berkembang dan memperoleh pengikut baru. (Webber et al., 2021; de Jong et al., 2022).
3. Aktualisasi Diri dalam Mengikuti Tren
Secara psikologis, kepuasan diri bukan sesuatu yang selalu menetap. Manusia dapat terus mencari hal baru yang dianggap memberi pengalaman, pencapaian, atau pengakuan. Dalam konteks FOMO, ketika seseorang melihat orang lain mendapatkan pengalaman yang dianggap menyenangkan, relevan, atau populer, muncul dorongan untuk tidak tertinggal.
Kembali kepada poin pertama, ketika manusia melakukan sesuatu yang baru dan merasa diterima dalam sebuah komunitas, hal tersebut dapat memberikan kepuasan karena ada sesuatu yang dianggap tercapai. Kombinasi sense of belonging dan rasa puas ini dapat membuat individu terus mengikuti perubahan tren. Dalam aspek aktualisasi, individu akan berharap selalu dapat diterima dan selalu mendapat hal yang senang. Oleh sebab itu ketika tren berevolusi, hal tersebut akan dipandang oleh manusia sebagai suatu tantangan dan pencapaian baru, yang akan berujung kepada kepuasan baru. (Gupta & Sharma, 2021; Elhai et al., 2021).
Ketika FOMO Masuk ke Dunia Finansial
Sekarang jika dalam aspek finansial, di era ketika layar ponsel dipenuhi tangkapan layar cuan ratusan persen, FOMO bisa menjadi berbahaya. Rasa takut ketinggalan momentum ini bukan sekadar kecemasan sosial. Dalam konteks investasi, FOMO dapat berperan sebagai pemicu keputusan yang lebih impulsif dan perilaku mengikuti orang lain.
Sebuah studi terhadap investor ritel saham di Indonesia menemukan hubungan negatif antara FOMO dan kinerja investasi, dengan literasi investasi sebagai faktor yang memoderasi hubungan tersebut (Ammar, 2026). Temuan ini sejalan dengan literatur yang menunjukkan bahwa FOMO dapat memengaruhi proses pengambilan keputusan investasi, sementara tingkat literasi dan pemahaman terhadap risiko menjadi bagian penting dalam pengambilan keputusan yang lebih terinformasi.
Riset mengenai investor ritel Indonesia juga menunjukkan bahwa FOMO berkaitan dengan keputusan impulsif dan herding behavior, yaitu kecenderungan mengikuti keputusan investor lain tanpa analisis yang memadai (Laraga, 2025; Budiman et al., 2025). Dengan kata lain, perhatian dapat bergeser dari pertanyaan “apakah aset ini sesuai dengan tujuan dan profil risiko saya?” menjadi “mengapa saya belum ikut?”
Ketika Takut Tertinggal Mengubah Cara Kita Mengambil Keputusan
FOMO dapat membuat seseorang terlalu fokus pada peluang yang terasa akan hilang jika tidak segera diambil. Dalam kondisi seperti ini, urgensi menjadi lebih dominan daripada proses evaluasi.
Pada aset yang sangat volatil, dorongan tersebut dapat semakin kuat. Penelitian eksperimental pada konteks investasi aset kripto menemukan bahwa paparan terhadap daya tarik FOMO dapat memengaruhi keputusan investasi, dengan impulsivitas ikut memengaruhi kekuatan efek tersebut (Friederich et al., 2023).
Kerugian FOMO tidak hanya berupa angka merah di portofolio. Ia juga merusak disiplin: rencana investasi jangka panjang ditinggalkan, dana darurat tergerus, bahkan tidak sedikit yang berutang atau menggunakan pinjaman online untuk mengejar tren. Beban psikologisnya seperti stres, penyesalan, dan hilangnya kepercayaan pada pasar setelah terbakar sekali dapat bersifat nyata dan menganggu kualitas hidup seseorang. (Laraga, 2025; Friederich et al., 2024). Karena itu, FOMO perlu dilihat bukan hanya sebagai masalah “kurang disiplin”, tetapi sebagai pola yang dipengaruhi oleh faktor psikologis dan sosial.
Bagaimana FOMO Finansial Bisa Dijinakkan?
Kabar baiknya, FOMO bisa dijinakkan. Kuncinya bukan hanya menahan diri dengan kekuatan tekad, melainkan membangun sistem yang membuat keputusan impulsif menjadi lebih sulit dilakukan.
1. Punya Rencana, Punya Jangkar
Langkah pertama meredam FOMO adalah memiliki rencana investasi yang jelas: tujuan jangka pendek, menengah, dan panjang, profil risiko, serta horizon waktu. Rencana ini berfungsi sebagai jangkar. Ketika godaan datang, pertanyaannya bukan lagi “aset ini sedang naik atau tidak?”, melainkan “apakah ia cocok dengan rencana saya?” OJK juga menekankan pentingnya memahami tujuan investasi dan profil risiko sebelum memilih produk investasi (OJK, 2025).
2. Otomatiskan Kebaikan, Manualkan Keputusan Besar
Emosi dapat menjadi lebih kuat ketika pasar bergerak cepat. Karena itu, kebiasaan baik dapat dibuat berjalan secara otomatis. Investasi dengan jumlah yang konsisten dan berkala merupakan salah satu strategi yang dapat membantu mengurangi ketergantungan pada keputusan berdasarkan pergerakan pasar jangka pendek (Investor.gov, 2026).
Sebaliknya, untuk keputusan besar seperti masuk ke instrumen baru atau memindahkan dana dalam jumlah signifikan, sengajakan membuat prosesnya lebih lambat. Beri jeda, baca prospektus, pelajari informasi produk, dan verifikasi legalitasnya. FOMO hidup dari urgensi; jeda memberi ruang bagi evaluasi.
3. Diversifikasi dan Kurangi Frekuensi Mengecek Portofolio
Menyebar dana ke berbagai instrumen investasi bukan sekadar strategi teknis, tetapi juga dapat menjadi rem psikologis. Diversifikasi membantu mengurangi konsentrasi risiko karena dana tidak ditempatkan hanya pada satu aset (Investor.gov, 2026).
Selain itu, batasi mengecek portofolio. Melihat pergerakan harga terus-menerus dapat membuat perhatian semakin tersedot oleh fluktuasi jangka pendek. Evaluasi portofolio sebaiknya kembali pada rencana dan tujuan yang sudah ditetapkan, bukan semata-mata pada perubahan harga setiap saat.
4. Literasi: Vaksin Paling Ampuh
OJK menempatkan literasi keuangan sebagai bagian penting dari kemampuan masyarakat untuk memilih produk yang sesuai dengan kebutuhan dan mengambil keputusan keuangan secara bertanggung jawab (OJK, 2025). Penelitian menunjukkan investor dengan literasi keuangan tinggi jauh lebih tahan terhadap FOMO bahkan efek negatifnya bisa berbalik menjadi netral.
Pengetahuan mengubah "ketakutan tertinggal" menjadi "kemampuan memilih". Pahami dasar instrumen yang digunakan, risiko, biaya, dan informasi yang relevan. Lengkapi dengan diet informasi: kurangi grup sinyal yang mendorong keputusan terburu-buru, unfollow akun yang menjual mimpi cepat kaya, dan ganti dengan sumber edukasi yang lebih tenang dan dapat diverifikasi. (Laraga, 2025; Budiman et al., 2025).
5. Sabar Adalah Kunci
Di pasar, FOMO membuat kita bergegas menjadi kelompok pertama. Melawan FOMO berarti membangun system rencana, otomatisasi, jeda, diversifikasi, dan literasi yang membuat kesabaran menjadi pilihan yang lebih mudah. Karena pada akhirnya, tujuan investasi bukan memenangkan setiap tren. Tujuannya adalah membuat keputusan yang selaras dengan kondisi, tujuan, dan kemampuan kita sendiri.
PERSPEKTIF YFD
FOMO mengingatkan kita bahwa keputusan finansial tidak selalu dimulai dari angka. Kadang keputusan dimulai dari kebutuhan untuk diterima, takut tertinggal, atau keinginan untuk merasakan sesuatu yang sedang dirasakan orang lain.
Karena itu, sebelum bertanya “berapa keuntungan yang bisa saya dapat?”, mungkin ada pertanyaan yang lebih mendasar: “Apa yang sebenarnya sedang saya kejar?”
Memahami alasan di balik keputusan dapat menjadi bagian penting dari kesehatan finansial. Bukan agar kita berhenti mengikuti semua tren, tetapi agar kita bisa membedakan antara keputusan yang memang sesuai dengan tujuan kita dan keputusan yang hanya muncul karena takut tertinggal.
Catatan: Artikel ini bertujuan untuk edukasi umum dan bukan merupakan rekomendasi pembelian atau penjualan instrumen investasi. Setiap keputusan finansial perlu disesuaikan dengan kondisi keuangan, tujuan, horizon waktu, dan profil risiko masing-masing individu.
Untuk memahami pola finansial Anda secara lebih spesifik, Financial Health Check Up bersama tim YFD juga dapat menjadi langkah awal.
DAFTAR PUSTAKA
Gupta, M., & Sharma, A. (2021). Fear of missing out: A brief overview of origin, theoretical underpinnings and relationship with mental health. World Journal of Clinical Cases, 9(19), 4881–4889. doi:10.12998/wjcc.v9.i19.4881
Elhai, J. D., Yang, H., & Montag, C. (2021). Fear of missing out (FOMO): overview, theoretical underpinnings, and literature review on relations with severity of negative affectivity and problematic technology use. Revista Brasileira de Psiquiatria, 43(2), 203–209. doi:10.1590/1516-4446-2020-0870
Abd Ellatif Elsayed H. (2025). Fear of Missing Out and its impact: exploring relationships with social media use, psychological well-being, and academic performance among university students. Frontiers in Psychology, 16, 1582572. doi:10.3389/fpsyg.2025.1582572
Freire, R. C., & Santos, V. A. (2021). Features shared between fear of missing out on rewarding experiences (FOMO) and internet gaming disorder. Revista Brasileira de Psiquiatria, 43(2), 129–130. doi:10.1590/1516-4446-2020-0019
Ammar, F. (2026). Pengaruh Fear of Missing Out (FoMO) terhadap Kinerja Investasi Investor Ritel Indonesia dengan Moderasi Literasi Investasi. Doctoral dissertation, Universitas Gadjah Mada.
Laraga, A. G. (2025). Understanding the "Fear of Missing Out" (FOMO) Phenomenon Among Retail Investors in the Indonesian Capital Market: A Literature Review. Journal of Applied Accounting and Taxation, 10(2), 310–319.
Alabri, A. (2022). Fear of Missing Out (FOMO): The Effects of the Need to Belong, Perceived Centrality, and Fear of Social Exclusion. Human Behavior and Emerging Technologies, 2022, 4824256. doi:10.1155/2022/4824256
Barber, B. M., Huang, X., Odean, T., & Schwarz, C. (2022). Attention-Induced Trading and Returns: Evidence from Robinhood Users. The Journal of Finance, 77(6), 3141–3190. doi:10.1111/jofi.13183
Budiman, J., Ong, T., & Yuwono, W. (2025). Exploring Cognitive Bias Influence on Investment Decisions in Indonesia: The Mediating Role of FOMO. Jurnal Economia, 21(3), 432–446. doi:10.21831/economia.v21i3.76879
de Jong, J. W., Fraser, K. M., & Lammel, S. (2022). Mesoaccumbal Dopamine Heterogeneity: What Do Dopamine Firing and Release Have to Do With It? Annual Review of Neuroscience, 45, 109–129. doi:10.1146/annurev-neuro-110920-011929
Friederich, F., Meyer, J.-H., Matute, J., & Palau-Saumell, R. (2024). CRYPTO-MANIA: How fear-of-missing-out drives consumers’ (risky) investment decisions. Psychology & Marketing, 41, 102–117. doi:10.1002/mar.21906
Investor.gov. (2026). Dollar Cost Averaging; Asset Allocation and Diversification. U.S. Securities and Exchange Commission.
OJK. (2024). Buku 9 – Perencanaan Keuangan, Seri Literasi Keuangan. Otoritas Jasa Keuangan.
Webber, H. E., Lopez-Gamundi, P., Stamatovich, S. N., de Wit, H., & Wardle, M. C. (2021). Using pharmacological manipulations to study the role of dopamine in human reward functioning: A review of studies in healthy adults. Neuroscience & Biobehavioral Reviews, 120, 123–158. doi:10.1016/j.neubiorev.2020.11.004