Mengapa Uang Selalu Terasa Kurang
Mengapa kita tetap merasa kurang meski kondisi finansial sudah membaik? Refleksi pribadi tentang scarcity mindset, self-worth, impulsive spending, dan pentingnya regulasi diri dalam membangun hubungan yang lebih sehat dengan uang.
Artikel ini adalah turunan dari: Scarcity Mindset: Ketika Rasa Kekurangan Mengendalikan Keputusan Finansial
Saya sudah jadi dokter. Punya penghasilan yang cukup. Bisa membantu orang lain secara finansial. Punya tabungan. Keluarga saya sudah jauh lebih baik dibanding dulu.
Tapi entah kenapa, rasa cukup itu tidak pernah benar-benar datang.
Ketika Semua Sudah Membaik, Tapi Tidak Terasa Cukup
Selama ini saya sering berpikir ini soal disiplin atau soal belum berhasil sepenuhnya. Sampai saya mulai bertanya ke diri sendiri: apakah ini salah satu bentuk scarcity mindset yang belum saya regulasi?
Seperti yang sudah dibahas di artikel sebelumnya, scarcity bukan cuma soal kondisi finansial yang benar-benar kekurangan. Ia juga bisa berupa pengalaman psikologis, rasa kurang yang terus ada meski secara angka semuanya sudah membaik.
Saya menyadari saya meletakkan keberhargaan diri pada seberapa produktif saya. Ketika berhenti bekerja atau menghasilkan sesuatu, muncul rasa gelisah, seolah berhenti berarti kehilangan bukti bahwa saya “berharga”.
Belakangan saya tahu, pola ini punya nama dalam psikologi: contingent self-worth, kondisi ketika harga diri seseorang bergantung pada pencapaian di area tertentu, salah satunya kompetensi dan produktivitas (Crocker and Wolfe, 2001). Ini menjelaskan kenapa berhenti bekerja terasa bukan sekadar istirahat, tapi seperti kehilangan bukti bahwa saya “berharga”.
Penelitian juga mengaitkan financial contingency of self-worth dengan konflik tujuan finansial, compulsive buying, work-family conflict, burnout, dan kesejahteraan yang lebih rendah (Park et al., 2024; Häusser et al., 2022).
Bukan Hanya Berapa Banyak yang Saya Punya
Saat pertama kali menjalani Financial Trauma Self Assasment (FTSA), hasilnya menunjukkan tingkat disregulasi SSD (Scarcity-Driven Safety Dysregulation) yang sangat berat. Saya baru sadar, rasa “tidak pernah cukup” ini bukan sekadar perasaan sesaat ia sudah jadi pola yang cukup dalam.
Kondisi finansial secara objektif dan pengalaman subjektif terhadap kondisi tersebut tidak selalu beriringan. Seseorang bisa memiliki penghasilan, aset, dan tabungan yang lebih baik, tetapi tetap merasa khawatir atau tidak aman. Literatur terbaru menekankan bahwa financial well-being memiliki dimensi objektif sekaligus subjektif, bukan hanya apa yang kita miliki, tetapi bagaimana kita mengevaluasinya (Sorgente et al., 2024; Garg et al., 2024).
Jadi mungkin pertanyaannya bukan hanya “Berapa banyak yang saya punya?”, tetapi juga “Bagaimana saya mempersepsikan apa yang saya punya?”
Data yang Tidak Bisa Saya Bantah
Selama 3 bulan terakhir, saya mencoba First Aid untuk memahami pola perilaku finansial saya sendiri.
Di bulan pertama, data dashboard perilaku menunjukkan saya 100% impulsif saat lelah. Setiap kali energi saya habis, keputusan finansial saya nyaris selalu diambil secara impulsif, bukan sadar.
Bulan kedua turun ke 92%. Bulan ketiga turun tajam ke 20%. Lalu bulan keempat (Agustus), naik lagi ke 35%.
Awalnya saya pikir angka-angka ini tidak berarti apa-apa. Ternyata setelah dilihat berdampingan dengan asesmen ulang saya yang cukup menurun saya sadar ada pola yang layak saya perhatikan.
Semakin saya memahami pola diri saya, semakin turun juga kecenderungan impulsif saya. Dan ketika saya lengah, seperti bulan keempat, angkanya naik lagi.
Bukan garis lurus. Manusiawi.
Namun saya juga perlu berhati-hati dalam membaca data ini. Saya tidak bisa mengatakan bahwa First Aid sendirilah yang menyebabkan perubahan tersebut. Ini adalah data observasional dari diri saya sendiri, tanpa kelompok pembanding, sehingga tidak cukup untuk membuktikan hubungan sebab-akibat. Bagi saya, nilai utamanya adalah sebagai alat untuk meningkatkan awareness dan membantu melihat pola yang sebelumnya hanya terasa samar.
Regulasi Diri Bisa Dilatih
Pola naik-turun ini ternyata juga relevan dengan literatur mengenai self-regulation. Penelitian Oaten dan Cheng (2007) yang mengamati program financial monitoring selama empat bulan menemukan bahwa latihan pengendalian diri melalui pemantauan finansial dikaitkan dengan peningkatan kapasitas self-regulation dari waktu ke waktu.
Ini tidak berarti setiap pengguna aplikasi monitoring akan mengalami perubahan yang sama. Namun, temuan tersebut menunjukkan bahwa regulasi diri dapat dipraktikkan dan dilatih.
Review mengenai financial self-regulation menunjukkan bahwa strategi pengaturan pengeluaran dapat membantu mencapai tujuan finansial, meski efektivitasnya bergantung pada situasi dan karakteristik individu (Peetz, 2022).
Rasa Kurang yang Diam-Diam Membenarkan Perilaku
Ini yang paling mengejutkan saya: rasa “tidak pernah cukup” ini ternyata bisa jadi alasan untuk membenarkan perilaku yang sebenarnya tidak sehat termasuk perilaku impulsif yang saya bingkai sebagai coping mechanism terhadap stres dan kelelahan karena bekerja berlebihan.
“Aku capek, wajar kalau aku belanja sesuatu.” “Aku sudah kerja keras, aku pantas dapat ini.”
Kalimat-kalimat ini terasa masuk akal saat diucapkan ke diri sendiri.
Penelitian mengenai consumer self-regulation menunjukkan bahwa self-control dan faktor situasional berkaitan dengan kemampuan mengendalikan perilaku konsumsi, termasuk impulsive purchasing (Francke and Carrete, 2023). Stres finansial juga dapat memengaruhi inhibitory control dan keputusan ekonomi dalam kondisi tertentu (Hughes et al., 2024).
Jadi mungkin persoalannya bukan sekadar “Saya boros atau tidak”. Ada pertanyaan yang lebih dalam: apakah saya sedang membeli sesuatu karena benar-benar membutuhkannya, atau karena tubuh dan pikiran saya sedang mencari rasa lega setelah kelelahan?
Perubahan Dimulai dari Menyadari
Saya belum 100% mampu meregulasi pola ini. Angka saya masih berada di tingkat yang berat, meski sudah berkurang. Bulan keempat saya sempat naik lagi. Ini proses, bukan garis lurus menuju sempurna.
Tapi satu hal yang saya pelajari: meregulasi diri itu mustahil dilakukan tanpa lebih dulu memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi pada diri kita. Saya tidak bisa mengubah pola yang saya tidak sadari ada.
First Aid membantu saya melihat pola itu secara konkret, bukan sekadar perasaan samar “kayaknya aku boros kalau capek”, tapi data yang menunjukkan pola tersebut memang muncul dan dapat saya amati dari waktu ke waktu.
Dan mungkin inilah bagian paling penting dari perjalanan saya: saya tidak lagi hanya bertanya bagaimana supaya saya bisa bekerja lebih banyak, menghasilkan lebih banyak, atau memiliki lebih banyak. Saya mulai belajar bertanya apakah saya mampu merasa cukup, beristirahat tanpa merasa bersalah, dan tetap merasa berharga ketika saya tidak sedang produktif.
Jika Anda juga merasa sulit merasa cukup meski kondisi sudah membaik, itu bukan tanda Anda tidak bersyukur. Itu bisa jadi sinyal untuk mulai memahami pola diri Anda sendiri. YFD First Aid adalah langkah awal yang saya pakai sendiri untuk itu.
PERSPEKTIF YFD
Perubahan selalu dimulai dari menyadari dan memahami. Meregulasi diri mustahil dilakukan tanpa memahami apa yang sedang terjadi.
Catatan: Artikel ini bertujuan edukasi umum berdasarkan pengalaman pribadi penulis, dan bukan pengganti konsultasi profesional. Data dan pengalaman pribadi yang disampaikan di dalam artikel ini tidak dimaksudkan sebagai bukti hubungan sebab-akibat atau sebagai diagnosis terhadap diri penulis maupun pembaca. Jika Anda merasa pola serupa mulai memengaruhi kualitas hidup Anda secara signifikan, berbicara dengan psikolog atau psikiater tetap dianjurkan berdampingan dengan langkah-langkah yang dibahas di sini.
Referensi
Crocker, J. and Wolfe, C.T. (2001) ‘Contingencies of self-worth’, Psychological Review, 108(3), pp. 593–623. doi:10.1037/0033-295X.108.3.593.
Francke, A.E. and Carrete, L. (2023) ‘Consumer self-regulation: Looking back to look forward. A systematic literature review’, Journal of Business Research, 157, 113461. doi:10.1016/j.jbusres.2022.113461.
Garg, N. et al. (2024) ‘Financial well-being: An integrated framework, operationalization, and future research agenda’, Journal of Consumer Behaviour. doi:10.1002/cb.2372.
Häusser, J.A. et al. (2022) ‘Burning the candle at both ends: The role of financial contingency of self-worth and work-family conflict on job and parental well-being’, Personality and Individual Differences, 199, 111824. doi:10.1016/j.paid.2022.111824.
Hughes, B.T., Ludwig, R.M., Robles, K.E. and Berkman, E.T. (2024) ‘The effect of financial stress on inhibitory control and economic decisions’, Journal of Experimental Social Psychology, 113, 104621. doi:10.1016/j.jesp.2024.104621.
Oaten, M. and Cheng, K. (2007) ‘Improvements in self-control from financial monitoring’, Journal of Economic Psychology, 28(4), pp. 487–501. doi:10.1016/j.joep.2006.11.003.
Park, L. et al. (2024) ‘I’m Still Spending: Financial Contingency of Self-Worth Predicts Financial Motivational Conflict and Compulsive Buying’, Personality and Social Psychology Bulletin, 50(2). doi:10.1177/01461672221119356.
Peetz, J. (2022) ‘Financial self-regulation’, Social and Personality Psychology Compass, 16(5), e12663. doi:10.1111/spc3.12663.
Sorgente, A. et al. (2024) ‘One (Financial Well-Being) Model Fits All? Testing the Multidimensional Subjective Financial Well-Being Scale Across Nine Countries’, Journal of Happiness Studies, 25, 13. doi:10.1007/s10902-024-00708-z.