Behavioural Finance

Scarcity Mindset: Ketika Rasa Kekurangan Mengendalikan Keputusan Finansial

schedule 7 menit visibility 209
Scarcity Mindset: Ketika Rasa Kekurangan Mengendalikan Keputusan Finansial

Memahami bagaimana scarcity mindset memengaruhi perhatian, pengambilan keputusan, dan hubungan kita dengan uang.

Ketika Uang Terasa Tidak Pernah Cukup

Pernahkah Anda merasa bahwa berapa pun penghasilan yang masuk, uang tetap terasa kurang?

Gaji sudah naik. Pengeluaran bahkan sudah berusaha ditekan. Namun, setiap bulan tetap muncul perasaan yang sama: “Kok masih kurang, ya?”

Kita sering menganggap kondisi tersebut semata-mata sebagai masalah pendapatan atau kemampuan mengatur uang. Seolah-olah solusinya sederhana: tingkatkan penghasilan, kurangi pengeluaran, lalu semuanya akan terasa lebih aman.

Padahal, hubungan seseorang dengan uang tidak hanya ditentukan oleh angka di rekening.

Ketika seseorang terus-menerus merasa kekurangan—baik karena sumber daya memang terbatas maupun karena pikirannya terus dipenuhi kekhawatiran tentang kekurangan—cara otak memusatkan perhatian dan mengambil keputusan dapat ikut berubah. Inilah yang dalam behavioral science dikenal sebagai scarcity mindset.

Scarcity mindset bukan sekadar keadaan “tidak punya cukup uang”. Ia menggambarkan kondisi ketika perhatian seseorang menjadi sangat terfokus pada sesuatu yang dianggap kurang, sehingga hal tersebut mengambil porsi besar dari kapasitas mentalnya (Saikia and Rahman, 2025; Madern and van Lenthe, 2024).

Apa Itu Scarcity Mindset?

Secara sederhana, scarcity berarti kelangkaan atau keterbatasan sumber daya. Sumber daya tersebut dapat berupa uang, waktu, makanan, energi, bahkan perhatian.

Ketika seseorang merasa bahwa sumber daya yang tersedia tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan, pikirannya cenderung memberikan perhatian lebih besar pada kekurangan tersebut. Fokus ini dapat membantu seseorang menangani kebutuhan yang paling mendesak, tetapi pada saat yang sama dapat membuat aspek lain menjadi kurang diperhatikan.

Review terbaru mengenai financial scarcity menunjukkan bahwa pengalaman “having less than needed” dapat memengaruhi perhatian, proses pengambilan keputusan, orientasi waktu, dan prioritas konsumsi (Saikia et al., 2025).

1. Scarcity Membuat Perhatian Menyempit

Salah satu karakteristik penting scarcity mindset adalah tunneling—perhatian menjadi sangat terfokus pada masalah yang dianggap paling mendesak.

Dalam kondisi finansial yang penuh tekanan, “terowongan” tersebut dapat berupa tagihan bulan ini, saldo rekening, cicilan, atau kebutuhan yang harus segera dibayar.

Fokus seperti ini memiliki fungsi adaptif. Ketika ada masalah yang mendesak, kita memang perlu memprioritaskannya. Masalah muncul ketika seseorang terlalu lama berada dalam kondisi tersebut.

Penelitian mengenai cognitive load dan financial scarcity menunjukkan bahwa keterbatasan sumber daya dapat berkaitan dengan tunneling dan berkurangnya ruang perhatian untuk persoalan lain (Madern and van Lenthe, 2024).

2. Ketika Kekurangan Mengambil Ruang Mental

Scarcity bukan hanya memengaruhi apa yang kita perhatikan, tetapi juga dapat membebani kapasitas mental.

Penelitian Caballero et al. (2022) menemukan bahwa persepsi financial scarcity berkaitan dengan perubahan ke arah thinking style yang lebih konkret serta tingkat well-being yang lebih rendah.

Namun, penting untuk tidak menyederhanakan temuan tersebut menjadi kesimpulan bahwa orang yang mengalami kekurangan “tidak mampu berpikir dengan baik”. Scarcity adalah kondisi yang dapat memengaruhi proses berpikir dalam konteks tertentu, bukan label terhadap kemampuan seseorang.

3. Scarcity Dapat Mengubah Cara Kita Menilai Pilihan

Ketika sumber daya terasa terbatas, keputusan finansial juga dapat terasa berbeda.

Pilihan yang memberikan manfaat segera bisa terlihat jauh lebih menarik dibandingkan manfaat yang baru dirasakan beberapa bulan atau tahun kemudian.

Scholten et al. (2022) menemukan bahwa pengalaman financial scarcity dapat meningkatkan temporal discounting dalam kondisi tertentu—kecenderungan memberikan bobot lebih besar pada hasil yang diterima sekarang dibandingkan hasil yang tertunda.

Artinya, ketika seseorang sedang berada dalam tekanan sumber daya, masa depan bukan selalu tidak penting. Ia hanya dapat terasa kalah mendesak dibandingkan kebutuhan yang ada di depan mata.

4. Bukan Hanya Tentang Penghasilan

Salah satu hal penting dalam memahami scarcity mindset adalah membedakan antara kondisi kekurangan secara objektif dan pengalaman psikologis mengenai kekurangan.

Seseorang dengan penghasilan rendah memang dapat menghadapi keterbatasan sumber daya yang nyata. Namun, seseorang dengan penghasilan tinggi juga dapat mengalami scarcity mindset apabila kehidupannya dipenuhi tuntutan, kewajiban, target, atau standar hidup yang membuat sumber daya yang dimiliki selalu terasa tidak cukup.

Karena itu, kita perlu berhati-hati untuk tidak menyamakan scarcity mindset dengan kemiskinan atau tingkat penghasilan tertentu. Scarcity adalah pengalaman mengenai keterbatasan yang dapat memengaruhi perhatian dan pengambilan keputusan.

5. Ketika “Cukup” Terus Bergeser

Pengalaman scarcity juga dapat diperkuat oleh tekanan sosial dan keluarga. Seseorang mungkin tidak hanya mengelola kebutuhan dirinya sendiri, tetapi juga membantu orang tua, membiayai pendidikan anak, membayar cicilan, mendukung pasangan, atau menghadapi kebutuhan keluarga besar.

Di sisi lain, standar hidup dapat berubah seiring meningkatnya penghasilan. Ketika sebelumnya seseorang merasa cukup dengan kondisi tertentu, kenaikan pendapatan dapat diikuti oleh kenaikan kebutuhan, ekspektasi, atau gaya hidup.

Akibatnya, angka penghasilan meningkat tetapi rasa aman finansial tidak selalu ikut meningkat.

Di sinilah pertanyaan “Berapa sebenarnya yang cukup?” menjadi penting. Karena tanpa definisi cukup, seseorang dapat terus mengejar angka berikutnya tanpa pernah benar-benar merasa memiliki ruang finansial.

Doctor’s Note

Bagian ini adalah hipotesis pribadi penulis untuk dipikirkan bersama — bukan kesimpulan ilmiah yang sudah terbukti.

Sebuah pertanyaan untuk dipikirkan bersama—bukan kesimpulan ilmiah: bagaimana jika scarcity mindset yang tidak diregulasi dengan baik, bertemu dengan lemahnya kontrol moral dan lingkungan yang permisif, dapat membuat pola “mengambil untuk bertahan” lama-kelamaan berubah menjadi pembenaran sosial yang terus diulang—hingga menjadi semacam budaya pada sekelompok oknum, misalnya dalam perilaku korupsi?

Literatur soal scarcity dan perilaku tidak etis sendiri masih beragam: beberapa penelitian menemukan scarcity dapat meningkatkan kecenderungan tidak etis, salah satunya melalui berkurangnya perhatian terhadap konsekuensi masa depan (Li et al., 2022), sementara penelitian lain menemukan scarcity meningkatkan bias perhatian namun tidak membuat orang benar-benar berperilaku tidak etis (Børsting et al., 2024). Artinya, scarcity lebih tepat dipandang sebagai salah satu kondisi yang meningkatkan kerentanan pada situasi tertentu—bukan penyebab tunggal korupsi.

Pertanyaan ini bisa dibawa lebih jauh: apakah luka sosial dan historis lintas generasi turut berperan? Penelitian epigenetik menunjukkan paparan stres pada orang tua dapat berkaitan dengan perubahan DNA methylation pada keturunannya, meski pada manusia mekanismenya masih diperdebatkan dan sebagian besar bukti kuat berasal dari studi hewan (Ghai and Kader, 2022; Gladish, Merrill and Kobor, 2022; Parade et al., 2021). Karena itu, kita belum bisa mengatakan pengalaman kolonial Indonesia diwariskan secara epigenetik hingga menghasilkan perilaku korupsi—ini pertanyaan lintas disiplin (sejarah, lingkungan sosial, pola pengasuhan, regulasi emosi, dan mungkin mekanisme biologis), bukan kesimpulan.

Ini juga membawa pada pertanyaan yang lebih tajam: mengapa korupsi begitu sulit diberantas, meski hukumannya sudah jelas? Apakah salah satu kemungkinannya adalah oknum yang menjalankan sistem tidak pernah benar-benar merasa “cukup”—dan tindakan mengambil itu berakar dari self-esteem yang rapuh, bukan semata keserakahan?

Sekali lagi, ini hipotesis untuk dipikirkan bersama—bukan pembelaan terhadap koruptor. Menghukum pelaku tetap penting dan tidak bisa ditawar, tapi tanpa memahami akar masalahnya, pencegahan jangka panjang akan sulit tercapai. Kita membutuhkan keduanya: keadilan atas apa yang sudah terjadi, dan pemahaman akar masalah untuk mencegah yang akan datang. Justru di sinilah financial health bertemu dengan character, ethics, dan public health.

Perspektif YFD

Di Your Financial Doctor, kami melihat kesehatan finansial bukan hanya dari seberapa besar penghasilan seseorang, tetapi juga dari bagaimana seseorang mempersepsikan dan merespons keterbatasan sumber daya. Karena itu, memperbaiki financial health tidak selalu dimulai dari pertanyaan “Bagaimana saya menghasilkan lebih banyak?”—kadang pertanyaan yang lebih mendasar adalah “Apa yang membuat saya selalu merasa tidak cukup?”

Keputusan finansial yang sering berorientasi jangka pendek bukan alasan untuk menyalahkan diri, melainkan sinyal untuk memahami polanya: apakah memang ada kekurangan sumber daya yang perlu diselesaikan, atau standar hidup dan tekanan sosial yang membuat rasa “cukup” terus bergeser?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan membawa kita pada pembahasan berikutnya: mengapa uang bisa tetap terasa kurang, bahkan ketika secara angka sebenarnya sudah lebih dari cukup.

Pada artikel supporting minggu ini, kita akan membahas lebih jauh mengenai “Mengapa Uang Selalu Terasa Kurang” dan bagaimana pengalaman subjektif “never enough” dapat memengaruhi perilaku finansial sehari-hari.


Artikel ini bertujuan sebagai edukasi umum dan bukan pengganti konsultasi finansial personal. Untuk memahami kondisi dan pola financial health Anda secara lebih spesifik, Anda dapat melakukan Financial Health Check Up bersama tim Your Financial Doctor.

Referensi

Børsting, C.K., Elbæk, C.T., Mitkidis, P. and Hochman, G. (2024) ‘Resource constraints lead to biased attention but decrease unethical behavior’, Journal of Behavioral Decision Making. doi:10.1002/bdm.2402.

Caballero, A., Carrera, P. et al. (2022) ‘The links among relative financial scarcity, thinking style, fatalism, and well-being’, PsyCh Journal. doi:10.1002/pchj.566.

Ghai, M. and Kader, F. (2022) ‘A review on epigenetic inheritance of experiences in humans’, Biochemical Genetics, 60, pp. 1107–1140. doi:10.1007/s10528-021-10155-7.

Gladish, N., Merrill, S.M. and Kobor, M.S. (2022) ‘Childhood trauma and epigenetics: State of the science and future’, Current Environmental Health Reports, 9, pp. 661–672. doi:10.1007/s40572-022-00381-5.

Li, X. et al. (2022) ‘Effect of scarcity experience on unethical behavior: The mediating role of consideration of future consequences’, Current Psychology. doi:10.1007/s12144-022-03766-5.

Madern, T. and van Lenthe, F.J. (2024) ‘Tunneling, cognitive load and time orientation and their relations with dietary behavior of people experiencing financial scarcity’, International Journal of Behavioral Nutrition and Physical Activity. doi:10.1186/s12966-024-01576-9.

Parade, S.H. et al. (2021) ‘A systematic review of childhood maltreatment and DNA methylation: Candidate gene and epigenome-wide approaches’, Translational Psychiatry, 11, 134. doi:10.1038/s41398-021-01207-y.

Saikia, A.A. and Rahman, Z. (2025) ‘Consumers through the lens of financial scarcity: Review and future research agenda’, Journal of Consumer Marketing, 42(6), pp. 756–779.

Scholten, M. et al. (2022) ‘Financial scarcity increases discounting of gains and losses: Experimental evidence from a household task’, Journal of Economic Psychology, 92, 102546. doi:10.1016/j.joep.2022.102546.

chat