Financial & Physical Health

Biaya yang Tak Terlihat: Ongkos Diabetes Mellitus di Luar Rumah Sakit

schedule 4 menit visibility 310
Biaya yang Tak Terlihat: Ongkos Diabetes Mellitus di Luar Rumah Sakit

Biaya diabetes tidak berhenti di rumah sakit. Transportasi, waktu yang hilang, kehilangan pendapatan, dan kebutuhan pemantauan mandiri dapat ikut menggerus keuangan keluarga.

Ketika menghitung biaya diabetes mellitus, masyarakat biasanya melihat harga obat, pemeriksaan laboratorium, konsultasi, atau rawat inap. Padahal, terdapat pengeluaran lain yang tidak selalu tercantum pada kuitansi rumah sakit. Ongkos perjalanan, hilangnya pendapatan, waktu anggota keluarga, dan biaya pemantauan mandiri dapat menggerus keuangan rumah tangga sedikit demi sedikit.

Dalam ekonomi kesehatan, biaya penyakit dapat dibagi menjadi biaya langsung medis, biaya langsung nonmedis, dan biaya tidak langsung. Biaya langsung medis mencakup obat, konsultasi, pemeriksaan, serta perawatan. Biaya langsung nonmedis meliputi transportasi, parkir, makan selama berobat, atau penginapan. Sementara itu, biaya tidak langsung muncul ketika pasien atau pendamping kehilangan waktu kerja dan produktivitas akibat kontrol, rawat inap, disabilitas, atau kematian dini (Patty et al., 2021).

Waktu Juga Berharga

Bagi pekerja dengan pendapatan harian, satu hari kontrol dapat berarti satu hari tanpa penghasilan. Kerugian menjadi lebih besar ketika pasien harus menempuh perjalanan jauh, antre berjam-jam, atau dirujuk ke rumah sakit di kota lain. Bila penyakit telah mengganggu penglihatan, mobilitas, atau fungsi ginjal, anggota keluarga mungkin ikut meninggalkan pekerjaan untuk mendampingi pasien.

Penelitian dari perspektif pasien di Yogyakarta menemukan bahwa biaya tidak langsung menjadi komponen biaya terbesar dalam pengelolaan diabetes tipe 2. Biaya tersebut terutama berasal dari kehilangan produktivitas pasien dan pendamping, bahkan pada peserta yang telah memiliki jaminan kesehatan (Dwi Endarti et al., 2020). Temuan ini menunjukkan bahwa pembiayaan layanan medis saja belum sepenuhnya menghilangkan tekanan ekonomi keluarga (Patty et al., 2021).

Besarnya pengeluaran sangat bervariasi menurut fasilitas kesehatan, komplikasi, jenis terapi, kepesertaan JKN, dan metode perhitungan. Penelitian pada peserta JKN di tiga puskesmas di Yogyakarta pada tahun 2020 mencatat biaya dari perspektif pasien rata-rata Rp95.458 selama tiga bulan, atau sekitar Rp31.800 per bulan. Sebanyak 42 persen dari biaya tersebut justru berupa kehilangan produktivitas, sementara sisanya mencakup obat, pelayanan medis, pemeriksaan penunjang, transportasi, dan makan. Jika pola pengeluaran itu berlangsung sepanjang tahun, nilainya kira-kira Rp382.000 per pasien per tahun—angka yang tampak kecil, tetapi dapat bermakna bagi pekerja berpenghasilan harian (Rahmawati, 2020).

Dalam konteks berbeda, penelitian di Kabupaten Bulungan memperkirakan total cost of illness diabetes tipe 2 mencapai Rp7.350.237 per pasien per tahun, setara sekitar Rp612.500 per bulan. Dari jumlah tersebut, rata-rata biaya langsung mencapai Rp4.468.017 per tahun atau sekitar Rp372.300 per bulan; sisanya terutama mencerminkan biaya tidak langsung seperti kehilangan produktivitas (Nurul et al., 2023). Perbedaan besar antara kedua penelitian menegaskan bahwa angka tersebut bukan tarif baku nasional, melainkan gambaran bahwa biaya diabetes sangat dipengaruhi lokasi, komplikasi, tingkat pelayanan, kebutuhan terapi, dan komponen biaya yang dihitung.

Kajian sistematis di Indonesia juga menemukan bahwa biaya obat merupakan penyumbang utama biaya medis, sedangkan transportasi, kehilangan produktivitas, dan waktu keluarga turut membentuk beban di luar layanan kesehatan (Patty et al., 2021). Namun, kajian terbaru mencatat bahwa hanya sedikit penelitian Indonesia yang menghitung biaya tidak langsung secara lengkap. Akibatnya, angka beban diabetes yang tersedia kemungkinan masih lebih rendah daripada kenyataan (Adnan et al., 2025; Patty et al., 2021).

Alat yang Harus Dibeli

Biaya tersembunyi lainnya berasal dari kebutuhan memantau gula darah. Jaminan kesehatan dapat menanggung sebagian pelayanan dan terapi, tetapi pasien masih mungkin membeli glukometer, strip, lanset, jarum insulin, atau perlengkapan penyimpanan secara mandiri.

Survei nasional mengenai keterjangkauan insulin dan alat pemantauan menunjukkan bahwa fasilitas publik yang diteliti tidak menyediakan perangkat pemeriksaan gula darah mandiri. Bagi kelompok berpenghasilan rendah, pembelian satu glukometer setara dengan upah kerja 5–7 hari, sedangkan kebutuhan strip selama sebulan setara dengan upah 4–5 hari (Ramadaniati et al., 2024). Ini bukan pengeluaran sekali selesai karena strip, lanset, dan jarum perlu dibeli berulang kali.

Saat Biaya Mengubah Terapi

Tekanan tersebut dapat berkembang menjadi toksisitas finansial, yaitu kesulitan ekonomi dan tekanan emosional akibat pembiayaan penyakit. Tinjauan terbaru memperkirakan bahwa 30–60 persen penyandang diabetes mengalami suatu bentuk toksisitas finansial. Dampaknya dapat berupa penggunaan tabungan, utang, pengurangan kebutuhan rumah tangga, penundaan kontrol, pengurangan frekuensi pemeriksaan, atau penggunaan obat tidak sesuai anjuran (Patel, 2025).

Karena itu, dokter perlu menanyakan kemampuan membayar sebagai bagian dari anamnesis, bukan menunggu pasien mengaku tidak mampu. Regimen dapat disederhanakan, pilihan obat disesuaikan, jadwal kontrol dibuat lebih efisien, dan pasien dihubungkan dengan fasilitas primer atau program JKN yang tersedia. Kebijakan kesehatan juga perlu menilai biaya dari perspektif keluarga, termasuk transportasi, alat pemantauan, kehilangan produktivitas, dan beban pendamping.

Diabetes yang tampak “ditanggung” belum tentu benar-benar tanpa biaya. Selama ongkos di luar rumah sakit tidak dihitung, sebagian beban penyakit akan tetap berpindah diam-diam ke dompet, waktu, pekerjaan, dan kesejahteraan keluarga.

PERSPEKTIF YFD

Di YFD, kami melihat kesehatan finansial dan kesehatan fisik sebagai dua hal yang saling berkaitan. Diabetes dapat membawa biaya yang tidak selalu terlihat sejak awal—mulai dari transportasi, kehilangan pendapatan, waktu pendamping, hingga kebutuhan pemantauan yang berlangsung berulang. Karena itu, membangun pondasi keuangan yang kokoh merupakan salah satu bagian dari manajemen risiko ketika penyakit atau kondisi kesehatan membutuhkan biaya dan mengganggu kemampuan seseorang untuk bekerja dan memenuhi kebutuhan keluarga.

Baca artikel Pillar terkait: Diabetes Mellitus: Ketika Gula Darah Menguras Dompet dan Pikiran

Disclaimer: Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan diagnosis, pengobatan, atau konsultasi medis individual.

Evaluasi pondasi finansialmu melalui Financial Health Check Up YFD bisa menjadi langkah awal untuk memperkuat ketahanan finansialmu sebelum risiko datang.

REFERENSI

Adnan, Y., Hadju, V., Mallongi, A., & Ali, M. S. S. (2025). The Economic Cost of Type 2 Diabetes in Indonesia: A Systematic Review. Iranian Journal of Public Health, 54(10), 2139–2150. https://doi.org/10.18502/ijph.v54i10.20118

Dwi Endarti, Anna Wahyuni Widayanti, Ehga Ayodya Rahmawati, Nellatul Khaher, & Siti Rahayu. (2020). Cost of illness of type 2 diabetes mellitus from the patient’s perspective: a study from several primary healthcare centres and a hospital in Yogyakarta, Indonesia. International Journal of Research in Pharmaceutical Sciences, 11(4), 7442–7453. https://doi.org/10.26452/ijrps.v11i4.3934

Rahmawati, E. (2020). DAMPAK EKONOMI PENYAKIT PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2: STUDI KASUS DI 3 PUSKESMAS DI KOTA YOGYAKARTA. http://etd.repository.ugm.ac.id/

Nurul, L., Rochmah, T., Rosa, R. D., & Author, st. (2023). COST OF ILLNES AS A BASIC FOR ADVOCACY EFFORTS TO PREVENT AN INCREASE IN THE PREVALENCE OF TYPE 2 DIABETES MELLITUS.

Patel, M. R. (2025). Financial Toxicity in Diabetes: The State of What We Know. Current Diabetes Reports, 25(1), 32. https://doi.org/10.1007/s11892-025-01588-0

Patty, Y. F. P. P., Mufarrihah, & Nita, Y. (2021). Cost of illness of diabetes mellitus in Indonesia: A systematic review. In Journal of Basic and Clinical Physiology and Pharmacology (Vol. 32, Number 4, pp. 285–295). De Gruyter Open Ltd. https://doi.org/10.1515/jbcpp-2020-0502

Ramadaniati, H. U., Anggriani, Y., Lepeska, M., Beran, D., & Ewen, M. (2024). Availability, price and affordability of insulin, delivery devices and self-monitoring blood glucose devices in Indonesia. PLOS ONE, 19(10), e0309350. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0309350

chat