Financial & Physical Health

Diabetes Mellitus: Ketika Gula Darah Menguras Dompet dan Pikiran

schedule 6 menit visibility 30
Diabetes Mellitus: Ketika Gula Darah Menguras Dompet dan Pikiran

Diabetes bukan hanya soal gula darah, tetapi juga biaya, kehilangan waktu, tekanan psikologis, dan ketahanan finansial pasien serta keluarga.

Diabetes mellitus atau biasa dikenal sebagai kencing manis bukan sekadar persoalan angka gula darah. Bagi banyak keluarga, diagnosis ini juga berarti pengeluaran yang datang terus-menerus, waktu kerja yang hilang, kekhawatiran akan komplikasi, dan pertanyaan yang berulang setiap bulan: biaya mana lagi yang harus diprioritaskan?

Masalah ini menjadi semakin penting di Indonesia. International Diabetes Federation memperkirakan bahwa 20,4 juta orang dewasa berusia 20–79 tahun di Indonesia hidup dengan diabetes mellitus pada 2024. Jumlah tersebut diproyeksikan meningkat menjadi 28,6 juta pada 2050, sekaligus menempatkan Indonesia pada urutan kelima dunia berdasarkan jumlah orang dewasa dengan diabetes (International Diabetes Federation, 2025).

Biaya yang Tak Terlihat

Ketika membicarakan biaya diabetes, pikiran biasanya langsung tertuju pada obat, insulin, pemeriksaan laboratorium, atau biaya rawat inap. Padahal, beban finansial penyakit kronis jauh lebih luas. Ada biaya transportasi ke fasilitas kesehatan, makanan yang harus disesuaikan, alat pemantauan gula darah, kehilangan pendapatan karena kontrol atau sakit, serta waktu anggota keluarga yang ikut mendampingi pasien.

Sebagian biaya pengobatan memang dapat ditanggung Jaminan Kesehatan Nasional. Namun, perlindungan tersebut tidak selalu menghapus pengeluaran dari kantong keluarga maupun kerugian akibat berkurangnya produktivitas. Kajian mengenai biaya diabetes tipe 2 di Indonesia menunjukkan bahwa rawat inap, obat, dan tindakan medis merupakan penggerak utama biaya langsung. Biaya tidak langsung, seperti kehilangan produktivitas dan waktu pendamping, masih jarang dihitung sehingga beban sebenarnya kemungkinan lebih besar daripada yang tercatat (Adnan et al., 2025).

Inilah yang disebut toksisitas finansial: tekanan ekonomi sekaligus tekanan emosional yang timbul akibat biaya perawatan. Istilah ini bukan hanya menggambarkan seseorang yang benar-benar kehabisan uang. Kekhawatiran bahwa tabungan akan terkuras, pendapatan keluarga menurun, atau pengobatan kelak tidak terjangkau juga merupakan bagian dari masalah tersebut. Tinjauan ilmiah terbaru memperkirakan bahwa sekitar 30–60 persen penyandang diabetes mengalami suatu bentuk toksisitas finansial, meskipun besar dan bentuk bebannya berbeda menurut pendapatan, wilayah, dan sistem kesehatan (Patel, 2025).

Komplikasi Menggandakan Beban

Diabetes menjadi jauh lebih mahal ketika telah menimbulkan komplikasi. Kerusakan ginjal, penyakit jantung, stroke, gangguan penglihatan, neuropati (gangguan saraf), dan luka kaki diabetik dapat memerlukan pemeriksaan lebih sering, obat tambahan, perawatan rumah sakit, operasi, rehabilitasi, bahkan dialisis (cuci darah). Analisis data JKN pada pelayanan tingkat lanjut menemukan bahwa 57 persen pasien diabetes mellitus tipe 2 dalam populasi studi telah mengalami komplikasi. Sekitar tiga perempat dari seluruh biaya langsung digunakan untuk pasien dengan komplikasi; biaya rata-rata per pasien dengan komplikasi juga lebih dari dua kali biaya pasien tanpa komplikasi (Hidayat et al., 2022). Kajian Indonesia yang lebih baru memperkirakan bahwa biaya langsung tahunan pasien dengan komplikasi hampir empat kali lebih tinggi dibandingkan pasien tanpa komplikasi (Adnan et al., 2025).

Pesannya jelas: pengendalian diabetes sejak dini bukan hanya investasi kesehatan, tetapi juga perlindungan keuangan keluarga dan negara. Obat yang digunakan secara teratur, pemeriksaan mata dan ginjal, perawatan kaki, pengendalian tekanan darah, berhenti merokok, aktivitas fisik, dan pola makan sehat mungkin terasa merepotkan hari ini. Namun, biaya pencegahan hampir selalu lebih ringan dibandingkan biaya ketika komplikasi sudah terjadi.

Saat Dompet Menekan Pikiran

Hidup dengan diabetes menuntut keputusan setiap hari. Pasien perlu memikirkan makanan, aktivitas, obat, jadwal kontrol, hasil gula darah, dan ancaman komplikasi. Bila seluruh tuntutan ini bertemu dengan kesulitan ekonomi, beban psikologis dapat meningkat tajam.

Pasien mungkin merasa bersalah karena biaya pengobatannya dianggap mengurangi kebutuhan anak atau pasangan. Ada pula yang takut kehilangan pekerjaan karena terlalu sering izin kontrol, malu meminta bantuan keluarga, atau cemas setiap kali dokter menambah obat. Sebagian merasa gagal ketika gula darah belum terkendali, padahal kendalanya mungkin bukan kurangnya kemauan, melainkan keterbatasan biaya, akses, waktu, atau dukungan.

Tekanan emosional khusus akibat hidup dan merawat diabetes dikenal sebagai diabetes distress. Kondisi ini berbeda dari depresi klinis: pasien dapat merasa lelah, frustrasi, takut, dan kewalahan terhadap tuntutan diabetes tanpa selalu memenuhi kriteria gangguan depresi. Namun, diabetes distress dapat hidup berdampingan dengan kecemasan atau depresi, mengganggu perawatan diri, dan berkaitan dengan kendali gula darah yang lebih buruk (Speight et al., 2026).

Risiko gangguan psikologis pada diabetes memang tidak kecil. Sebuah studi meta-analisis terhadap 44 penelitian menemukan prevalensi depresi sebesar 22 persen pada diabetes mellitus tipe 1 dan 19 persen pada diabetes mellitus tipe 2, dibandingkan masing-masing 13 persen dan 11 persen pada kelompok tanpa diabetes (Farooqi et al., 2022). Hubungannya dapat membentuk lingkaran setan: tekanan keuangan memicu kecemasan dan kelelahan; pasien kemudian mengurangi pemeriksaan, menunda kontrol, atau tidak menggunakan obat sesuai anjuran; gula darah memburuk dan komplikasi meningkat; akhirnya biaya kembali melonjak. Depresi juga dapat mengganggu perawatan mandiri, menurunkan kualitas hidup, dan meningkatkan penggunaan pelayanan kesehatan (Holt, 2025).

Pilihan yang Serba Sulit

Dalam praktik sehari-hari, pasien tidak selalu mengatakan, “Saya tidak mampu.” Mereka mungkin menyampaikan bahwa obat masih ada, lupa kontrol, atau ingin “beristirahat dahulu” dari pengobatan. Di balik kalimat itu dapat tersembunyi pilihan sulit antara membeli obat, membayar sekolah, memenuhi kebutuhan makan, atau menanggung ongkos perjalanan.

Karena itu, menilai pasien semata-mata sebagai “tidak patuh” dapat menutup akar persoalan. Pertanyaan yang lebih manusiawi ialah: “Apakah ada biaya pengobatan atau biaya perjalanan yang terasa berat?” dan “Adakah pengeluaran kesehatan yang membuat kebutuhan rumah tangga lain harus dikurangi?” Ketersediaan dan keterjangkauan insulin serta perangkat pemantauan gula darah juga masih menjadi tantangan di Indonesia; sebuah survei menemukan bahwa kelompok berpendapatan rendah harus bekerja beberapa hari untuk membeli persediaan insulin maupun alat pemantauan mandiri (Ramadaniati et al., 2024).

Percakapan tersebut penting karena membuka jalan menuju solusi. Dokter dapat menyederhanakan regimen, memilih terapi yang efektif tetapi tetap terjangkau, menyesuaikan jadwal pemeriksaan, atau menghubungkan pasien dengan layanan primer dan program pengelolaan penyakit kronis. Pasien juga perlu diberi ruang untuk menyampaikan prioritas dan kekhawatirannya tanpa takut dihakimi.

Mengobati Angka dan Manusia

Penanganan diabetes yang baik harus memperhatikan tiga hal sekaligus: kendali penyakit, kemampuan membayar, dan kesehatan mental. Pada setiap kunjungan, tenaga kesehatan perlu melihat perubahan kondisi klinis sekaligus tanda kelelahan emosional, gangguan tidur, hilang minat, rasa putus asa, kecemasan berlebihan, atau pikiran untuk menyakiti diri. Pedoman EASD terbaru menganjurkan agar kesejahteraan emosional dibicarakan secara rutin, diabetes distress dinilai dengan instrumen tervalidasi, dan dukungan psikologis tersedia sebagai bagian dari pelayanan diabetes yang berpusat pada pasien (Speight et al., 2026).

Dukungan tidak harus selalu berupa terapi mahal. Edukasi yang mudah dipahami, penetapan target kecil dan realistis, keterlibatan keluarga dengan persetujuan pasien, kelompok dukungan sebaya, serta konseling psikologis dapat membantu. Pedoman EASD 2026 memberikan rekomendasi bersyarat terhadap intervensi psikologis, psikoedukasi, dan edukasi untuk mengurangi diabetes distress pada orang dewasa dengan diabetes tipe 2, meskipun penerapannya tetap perlu disesuaikan dengan sumber daya setempat (Speight et al., 2026).

Di tingkat sistem kesehatan, investasi terbesar semestinya diarahkan pada deteksi dini, pelayanan primer yang kuat, ketersediaan obat esensial, skrining komplikasi, dan akses dukungan psikologis. Data Indonesia memperlihatkan bahwa komplikasi merupakan penggerak utama lonjakan biaya (Adnan et al., 2025; Hidayat et al., 2022). Dengan demikian, mencegah satu kasus gagal ginjal, stroke, kebutaan, atau amputasi bukan hanya menyelamatkan kualitas hidup seseorang, tetapi juga melindungi ketahanan ekonomi sebuah keluarga (Adnan et al., 2025; Hidayat et al., 2022).

Diabetes mellitus memang berlangsung lama, tetapi pasien tidak seharusnya menjalani seluruh bebannya seorang diri. Keberhasilan terapi bukan hanya ditandai oleh turunnya HbA1c yang dianggap sebagai patokan dalam mengukur kendali gula darah, melainkan juga oleh kemampuan pasien untuk tetap bekerja, memenuhi kebutuhan keluarganya, menjalani pengobatan tanpa rasa takut, dan mempertahankan harapan. Dalam diabete mellitus, merawat dompet dan pikiran sama pentingnya dengan merawat gula darah.

PERSPEKTIF YFD

Di YFD, kami melihat kesehatan finansial tidak berdiri sendiri dari kesehatan fisik dan mental. Penyakit kronis seperti diabetes dapat memengaruhi bukan hanya biaya pengobatan, tetapi juga pendapatan, waktu kerja, kebutuhan keluarga, dan kondisi psikologis seseorang. Karena itu, merawat kesehatan juga merupakan bagian dari menjaga ketahanan finansial keluarga.

Baca artikel Supporting terkait: Biaya yang Tak Terlihat: Ongkos Diabetes Mellitus di Luar Rumah Sakit

Disclaimer: Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan diagnosis, pengobatan, atau konsultasi medis individual. Keputusan terkait kondisi kesehatan perlu didiskusikan dengan tenaga kesehatan yang menangani Anda.

REFERENSI

Adnan, Y., Hadju, V., Mallongi, A., & Ali, M. S. S. (2025). The Economic Cost of Type 2 Diabetes in Indonesia: A Systematic Review. Iranian Journal of Public Health, 54(10), 2139–2150. https://doi.org/10.18502/ijph.v54i10.20118

Farooqi, A., Gillies, C., Sathanapally, H., Abner, S., Seidu, S., Davies, M. J., Polonsky, W. H., & Khunti, K. (2022). A systematic review and meta-analysis to compare the prevalence of depression between people with and without type 1 and type 2 diabetes. Primary Care Diabetes, 16(1), 1–10. https://doi.org/10.1016/j.pcd.2021.11.001

Hidayat, B., Ramadani, R. V., Rudijanto, A., Soewondo, P., Suastika, K., & Siu Ng, J. Y. (2022). Direct Medical Cost of Type 2 Diabetes Mellitus and Its Associated Complications in Indonesia. Value in Health Regional Issues, 28, 82–89. https://doi.org/10.1016/j.vhri.2021.04.006

Holt, R. I. G. (2025). Diabetes and Depression. In K. R. Feingold (Ed.), Endotext. MDText.com, Inc. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK498652/

International Diabetes Federation. (2025). IDF Diabetes Atlas (11th ed.). International Diabetes Federation. https://diabetesatlas.org/

Patel, M. R. (2025). Financial Toxicity in Diabetes: The State of What We Know. Current Diabetes Reports, 25(1), 32. https://doi.org/10.1007/s11892-025-01588-0

Ramadaniati, H. U., Anggriani, Y., Lepeska, M., Beran, D., & Ewen, M. (2024). Availability, price and affordability of insulin, delivery devices and self-monitoring blood glucose devices in Indonesia. PLOS ONE, 19(10), e0309350. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0309350

Speight, J., Hermanns, N., Jensen, W., Kanc, K., Karagiannis, T., Law, M., Mocan, A., Rutters, F., Sturt, J., Zaccardi, F., & Holt, R. I. G. (2026). 2026 EASD evidence-based clinical practice guideline for assessing and managing diabetes distress among adults with type 1 diabetes or type 2 diabetes. Diabetologia. https://doi.org/10.1007/s00125-026-06840-0

chat