YFD Data Insight 01: Pelajaran dari 160 Financial Health Check-Up
Analisis deskriptif 160 Financial Health Check-Up dari 157 individu unik di Your Financial Doctor (April–September 2026): karakteristik responden, distribusi Financial Stage, dan pola finansial utama.
YFD Data Insight 01: Pelajaran dari 160 Financial Health Check-Up
Abstrak
Latar belakang. Perjalanan menuju financial health selalu dimulai dari satu langkah sederhana yaitu memahami kondisi diri sendiri terlebih dahulu. Tidak perlu menunggu krisis finansial untuk memahami kondisi keuangan saat ini. Financial Health Check Up membantu seseorang memahami posisinya saat ini, agar mampu mengambil keputusan finansial yang lebih baik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan Financial Health Check Up yang dilakukan di Your Financial Doctor (YFD) meliputi karakteristik responden, distribusi tahapan finansial, dan pola finansial yang terlihat dalam pemeriksaan.
Metode. Analisis deskriptif cross-sectional terhadap check-up yang diselesaikan pada 1 April–30 September 2026 oleh responden yang datang secara sukarela melalui tautan atau situs YFD. Terdapat 160 Financial Health Check Up dari 157 individu unik. Financial Stage ditentukan dari skor instrumen skrining internal YFD. Instrumen telah menjalani evaluasi psikometrik awal dengan konsistensi internal menunjukkan Cronbach's α = 0,820, KMO = 0,828, dan Bartlett's test of sphericity p < 0,001. Instrumen belum menjalani validasi eksternal, test–retest, atau validasi longitudinal. Analisis bersifat deskriptif dan eksploratif.
Hasil. Dari 160 check-up, 61 (38,1%) berada pada Surviving, 69 (43,1%) Growing, 28 (17,5%) Steady, dan 2 (1,3%) Comfortable. Surviving + Growing mencakup 81,3% observasi (IK 95% 74,5–86,5). Sebanyak 61,9% melaporkan pengeluaran melebihi pemasukan setidaknya 3 bulan per tahun, 58,1% belum memiliki dana darurat ≥3× pengeluaran bulanan, dan 49,4% memiliki hutang konsumtif. Sebanyak 113 (70,6%) belum memiliki atau baru mulai mempersiapkan dana hari tua. Penghasilan menunjukkan gradien paling jelas terhadap Financial Stage, tetapi sebagian hubungan bersifat konstruksional karena penghasilan merupakan komponen skor.
Kesimpulan. Financial health check up menunjukkan mayoritas responden berada pada tahap Surviving atau Growing dan menunjukkan kerentanan pada aspek arus kas, dana darurat, utang konsumtif, proteksi penghasilan, serta persiapan hari tua. Hasil ini bersifat deskriptif dan tidak dapat digeneralisasi sebagai prevalensi kondisi finansial populasi Indonesia.
Kata kunci: financial health check-up, arus kas, dana darurat, utang konsumtif, financial Stage.
Pendahuluan
Financial Health Network mendefinisikan financial health sebagai kondisi ketika seseorang mampu memenuhi kebutuhan finansial saat ini, mampu membangun keuangan masa depan, dan mampu bertahan serta pulih dari guncangan finansial yang tidak terduga.[1] Consumer Financial Protection Bureau (CFPB) di Amerika Serikat menambahkan satu dimensi subjektif yang relevan untuk didiskusikan: rasa memiliki kendali atas keuangan dan kebebasan membuat pilihan yang memungkinkan seseorang menikmati hidup, tanpa terus-menerus dibayangi kecemasan finansial.[2] Penelitian Brüggen, Hogreve, Holmlund, Kabadayi, dan Löfgren (2017) di Journal of Business Research memperkuat gambaran ini dari sisi akademis, mereka menemukan bahwa financial well-being tidak hanya ditentukan kondisi finansial objektif seseorang (jumlah aset, pendapatan), tapi juga oleh bagaimana seseorang memandang dan mengevaluasi kondisi keuangannya sendiri.[3] Your Financial Doctor (YFD) merangkum definisi financial health sebagai kemampuan keuangan seseorang untuk bertahan hari ini, membangun masa depan, menghadapi risiko, dan memiliki kualitas hidup yang lebih baik. Di Your Financial Doctor, kami percaya bahwa perjalanan menuju Financial Health selalu dimulai dari satu langkah sederhana yaitu memahami kondisi diri sendiri terlebih dahulu. Financial Health sebaiknya dijaga sebelum masalah muncul, sama seperti medical check up. Seseorang tidak perlu menunggu sakit untuk memeriksakan diri, begitu juga dalam hal finansial tidak perlu menunggu krisis finansial untuk memahami kondisi keuangan saat ini. Financial Health Check Up membantu seseorang memahami posisinya sekarang, supaya bisa mengambil keputusan yang lebih baik sebelum masalah membesar, bukan sesudahnya.[4]
Literatur membedakan financial literacy (pengetahuan dan keterampilan), perilaku finansial, dan financial well-being sebagai konstruk yang saling berhubungan tetapi tidak identik. [5,6] Survei nasional seperti Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) OJK terutama mengukur literasi dan inklusi keuangan pada sampel probabilitas,[7,8] tidak dirancang untuk memeriksa kondisi finansial individu secara rinci, misalnya arus kas, dana darurat, hutang, proteksi, dan persiapan hari tua. YFD menggunakan Financial Stage sebagai kerangka pemeriksaan awal yang memadukan aspek-aspek finansial dalam satu skor. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan Financial Health Check Up yang dilakukan di Your Financial Doctor (YFD) meliputi karakteristik responden, distribusi tahapan finansial, dan pola finansial yang terlihat dalam pemeriksaan.
Metode
Desain, periode, dan sampel
Desain penelitian adalah analisis deskriptif cross-sectional terhadap data Financial Health Check Up YFD yang dikumpulkan pada 1 April–30 September 2026. Data berasal dari Financial Health Check-Up YFD yang diselesaikan secara mandiri dan sukarela melalui Typeform pada April hingga awal Juli 2026, kemudian melalui situs YFD sejak Juli 2026. Isi kuesioner pada kedua platform sama. Unit observasi utama adalah satu kali check-up. Dataset akhir terdiri atas 160 observasi dari 157 individu unik. Tiga individu melakukan check-up dua kali; karena jumlahnya kecil dan tidak terdapat perbedaan Financial Stage, data tersebut tidak dianalisis sebagai perubahan longitudinal.
Instrumen Financial Stage
Financial Stage ditentukan dari skor total instrumen skrining internal YFD. Instrumen berisi 18 pertanyaan: tiga pertanyaan profil yang tidak diberi skor (aktivitas utama, usia, gender) dan 15 pertanyaan berpoin dalam empat bagian dengan skor maksimum teoretis 39 poin (Tabel 1). Skor dibagi menjadi empat tahap: Surviving (0–12), Growing (13–22), Steady (23–33), dan Comfortable (34–39). Skor di basis data dihitung ulang secara independen dari jawaban responden dan cocok pada 160 dari 160 observasi. Seluruh 160 observasi memiliki data scoring lengkap, tidak ada nilai kosong yang diimputasi untuk analisis.
| Bagian instrumen | Pertanyaan berpoin | Skor maksimum |
|---|---|---|
| Profil kapasitas (tanggungan, penghasilan bulanan) | 2 | 6 |
| Cash flow | 2 | 6 |
| Fondasi keamanan finansial (dana darurat, hutang konsumtif, proteksi kesehatan, asuransi jiwa, income protection) | 5 | 13 |
| Tabungan, aset, dan investasi | 6 | 14 |
| Total | 15 | 39 |
Evaluasi psikometrik awal terhadap 15 komponen scoring menunjukkan Cronbach’s α = 0,820, KMO = 0,828, dan uji Bartlett p < 0,001. Hasil tersebut merupakan bukti psikometrik awal dan belum dapat dianggap sebagai validasi instrumen secara penuh. Batas skor setiap tahap ditetapkan berdasarkan penilaian ahli YFD dan belum diturunkan secara empiris.
Analisis Data
Variabel yang dianalisis meliputi Financial Stage, gender, usia, sumber penghasilan, pendapatan bulanan, tanggungan, arus kas, utang konsumtif, dana darurat, proteksi kesehatan, asuransi jiwa, income protection, investasi berisiko tinggi, passive income, dan persiapan hari tua. Data disajikan sebagai jumlah, persentase, median, IQR, dan interval kepercayaan 95% metode Wilson. Perbandingan kelompok dilakukan secara eksploratif menggunakan uji Fisher exact, Mann–Whitney, dan Kruskal–Wallis. Nilai p tidak dikoreksi untuk multiple comparison dan tidak digunakan untuk menarik kesimpulan kausal.
Karena jumlah kategori tertentu kecil, kategori Steady dan Comfortable digabung dalam analisis kelompok. Kelompok usia ≥45 tahun digabung dengan usia 35–44 tahun menjadi ≥35 tahun. Kategori gender Others tidak dianalisis terpisah. Model linear eksploratif menggunakan skor tanpa komponen penghasilan dan tanggungan sebagai outcome, dengan gender, usia, sumber penghasilan, dan kategori penghasilan sebagai prediktor.
Hasil
Karakteristik Responden
Sebelum membaca hasil finansial, kita perlu memahami karakteristik dataset. Mayoritas check-up berasal dari perempuan, usia 25–34 tahun, dan pekerja.
| Karakteristik | n | % |
|---|---|---|
| Gender | ||
| Perempuan | 101 | 63,1% |
| Laki-laki | 57 | 35,6% |
| Others | 2 | 1,3% |
| Usia | ||
| <25 tahun | 13 | 8,1% |
| 25–34 tahun | 127 | 79,4% |
| ≥35 tahun | 20 | 12,5% |
| Profil pekerjaan/sumber penghasilan | ||
| Pekerja | 128 | 80,0% |
| Kombinasi pekerja dan pengusaha | 22 | 13,8% |
| Pemilik usaha | 7 | 4,4% |
| Masih sepenuhnya tanggungan orang tua | 3 | 1,9% |
| Penghasilan rata-rata per bulan | ||
| ≤2,5 jt | 14 | 8,8% |
| <6,5 jt | 40 | 25,0% |
| 6,5–12,9 jt | 52 | 32,5% |
| 13–24,9 jt | 31 | 19,4% |
| ≥25 jt | 23 | 14,4% |
| Tanggungan selain diri sendiri | ||
| Tidak ada | 85 | 53,1% |
| 1 orang | 34 | 21,3% |
| >1 orang | 41 | 25,6% |
Kelompok usia ≥35 tahun terdiri dari 35–44 tahun dan ≥45 tahun yang digabung.
Mayoritas check-up berasal dari perempuan, kelompok usia 25–34 tahun, dan pekerja. Sebanyak 33,8% responden berpenghasilan kurang dari 6,5 juta per bulan, 32,5% berpenghasilan 6,5–12,9 juta, dan 33,8% berpenghasilan sedikitnya 13 juta. Dataset tidak memuat data pendidikan dan wilayah.
Distribusi Financial Stage
| Financial Stage | n | % | IK 95% (Wilson) |
|---|---|---|---|
| Surviving (skor 0–12) | 61 | 38,1 | 31,0–45,8 |
| Growing (skor 13–22) | 69 | 43,1 | 35,7–50,9 |
| Steady (skor 23–33) | 28 | 17,5 | 12,4–24,1 |
| Comfortable (skor 34–39) | 2 | 1,3 | 0,3–4,4 |
Seluruh angka dalam persen. IK = interval kepercayaan.
Sebanyak 130 check-up (81,3%; IK 95% 74,5–86,5) berada pada Surviving + Growing. Skor total berkisar 2–37 dengan median 16 (IQR 10–21; rerata 16,3, SD 7,5). Sebanyak 26 check-up (16,3%) memiliki skor tepat di salah satu sisi batas (12/13, 22/23, atau 33/34), sehingga klasifikasi pada sekitar seperenam sampel sensitif terhadap letak batas.
Financial Stage menurut gender
| Gender | Surviving n (%) | Growing n (%) | Steady + Comfortable n (%) | Skor median (IQR) |
|---|---|---|---|---|
| Perempuan (n=101) | 45 (44,6) | 44 (43,6) | 12 (11,9) | 15 (10–20) |
| Laki-laki (n=57) | 16 (28,1) | 24 (42,1) | 17 (29,8) | 19 (12–24) |
Persentase dihitung di dalam masing-masing gender (row percentage).
Perempuan lebih sering berada pada Surviving dibanding laki-laki, dengan selisih 16,5 poin persentase (IK 95% 0,7–30,4; Fisher p=0,043). Proporsi Steady atau Comfortable lebih tinggi pada laki-laki dengan selisih 17,9 poin persentase (IK 95% 5,1–31,7; p=0,009). Median skor juga lebih tinggi pada laki-laki (p=0,009). Setelah penghasilan, usia, dan sumber penghasilan dipertimbangkan, selisih skor menurun dari 3,26 menjadi 2,11 poin.
Financial Stage menurut usia
| Usia | Surviving n (%) | Growing n (%) | Steady + Comfortable n (%) | Skor median (IQR) |
|---|---|---|---|---|
| <25 tahun (n=13) | 8 (61,5) | 4 (30,8) | 1 (7,7) | 11 (8–14) |
| 25–34 tahun (n=127) | 47 (37,0) | 57 (44,9) | 23 (18,1) | 16 (11–21) |
| ≥35 tahun (n=20) | 6 (30,0) | 8 (40,0) | 6 (30,0) | 18,5 (9,8–25,3) |
Proporsi Surviving adalah 61,5% pada kelompok usia <25 tahun, 37,0% pada usia 25–34 tahun, dan 30,0% pada usia ≥35 tahun. Kelompok <25 tahun memiliki skor median 11, dibandingkan 16 pada kelompok 25–34 tahun dan 18,5 pada kelompok ≥35 tahun. Interpretasi perlu hati-hati karena hanya terdapat 13 responden berusia <25 tahun dan 11 di antaranya berpenghasilan kurang dari 6,5 juta.
Financial Stage menurut penghasilan
| Penghasilan | n | Surviving n (%) | Growing n (%) | Steady + Comfortable n (%) |
|---|---|---|---|---|
| ≤2,5 jt | 14 | 13 (92,9) | 1 (7,1) | 0 (0,0) |
| <6,5 jt | 40 | 24 (60,0) | 14 (35,0) | 2 (5,0) |
| 6,5–12,9 jt | 52 | 19 (36,5) | 26 (50,0) | 7 (13,5) |
| 13–24,9 jt | 31 | 2 (6,5) | 21 (67,7) | 8 (25,8) |
| ≥25 jt | 23 | 3 (13,0) | 7 (30,4) | 13 (56,5) |
Penghasilan menunjukkan gradien yang paling jelas dalam dataset ini: proporsi Surviving turun dari 92,9% pada penghasilan ≤2,5 juta menjadi 60,0%, 36,5%, 6,5%, dan 13,0% pada kategori di atasnya (Kruskal–Wallis untuk skor p<0,001). Gradien ini sebagian bersifat konstruksional, karena penghasilan bulanan merupakan salah satu komponen skor (sekitar 10% dari skor maksimum). Menariknya, 3 dari 23 responden berpenghasilan ≥25 juta (13,0%) tetap berada pada Surviving, dan 1 dari 14 responden berpenghasilan ≤2,5 juta tidak berada pada Surviving, yang menunjukkan bahwa penghasilan tinggi tidak otomatis berarti kesehatan finansial yang baik.
Financial Stage menurut sumber penghasilan
| Profil | n | Surviving n (%) | Growing n (%) | Steady + Comfortable n (%) |
|---|---|---|---|---|
| Pekerja | 128 | 52 (40,6) | 58 (45,3) | 18 (14,1) |
| Pekerja + pengusaha | 22 | 5 (22,7) | 7 (31,8) | 10 (45,5) |
| Pemilik usaha (jumlah saja) | 7 | 2 | 3 | 2 |
Kelompok “masih sepenuhnya tanggungan orang tua” (n=3) tidak ditampilkan menurut stage.
Selisih proporsi Steady + Comfortable adalah 31,4 poin persentase (IK 95% 11,6–51,9; Fisher p=0,002), dan median skor 22 (IQR 18,3–28) dibanding 15 (IQR 10–20) pada pekerja (Mann–Whitney p<0,001). Pada pemilik usaha (n=7), jumlahnya terlalu kecil untuk persentase. Kelompok pekerja + pengusaha lebih sering berpenghasilan tinggi (11 dari 22 berpenghasilan ≥25 juta, dibanding 7,0% pada pekerja), tetapi selisih skornya tidak sepenuhnya berasal dari poin penghasilan: setelah poin penghasilan dan tanggungan dikeluarkan, skornya tetap lebih tinggi (rata-rata 18,2 vs 12,1 poin).
Utang dan Arus Kas
Utang konsumtif
Utang atau cicilan konsumtif dimiliki oleh 79 responden (49,4%; IK 95% 41,7–57,0). Sebanyak 38 responden (23,8%) memiliki beban utang <25% pendapatan, 29 (18,1%) sebesar 25–50%, dan 12 (7,5%) >50%. Sebanyak 41 responden (25,6%) memiliki beban utang sedikitnya 25% dari pendapatan bulanan. Literatur tentang financial well-being menunjukkan bahwa utang dapat berhubungan dengan financial stress, tetapi keberadaan utang sendiri tidak selalu identik dengan kondisi finansial yang buruk. Jenis utang, biaya, kemampuan membayar, tujuan pinjaman, dan besarnya beban terhadap pendapatan perlu dipertimbangkan bersama. YFD menempatkan utang konsumtif bersama arus kas, bukan sebagai indikator tunggal. Sebuah systematic review dan meta-analisis menemukan asosiasi antara hutang tanpa agunan dan kesehatan mental yang lebih buruk, tetapi desain observasional tidak menentukan arah hubungan tersebut.[9]
Arus Kas/Cash Flow
Sebanyak 99 responden (61,9%; IK 95% 54,2–69,0) melaporkan pengeluaran melebihi pemasukan sedikitnya 3 bulan per tahun. Pada 59 responden (36,9%), kondisi tersebut terjadi sedikitnya 6 bulan per tahun atau hampir setiap bulan. Dalam pertanyaan mengenai rata-rata pengeluaran dibandingkan pemasukan, 32 responden (20,0%) melaporkan pengeluaran lebih besar, 36 (22,5%) kurang lebih sama, dan 92 (57,5%) lebih kecil dari pemasukan.
Data ini menunjukkan mengapa nominal income saja tidak cukup untuk menggambarkan financial health. Kemampuan menjaga arus kas, memenuhi kewajiban, dan menghadapi expense shock merupakan bagian penting dari financial well-being. Riset CFPB juga menunjukkan bahwa kesulitan memenuhi pengeluaran dan income disruption berkaitan dengan kerentanan finansial pada konsumen yang diteliti di Amerika Serikat.[10]
Proteksi Finansial
Dana darurat
Sebanyak 47 check-up (29,4%) tidak memiliki dana darurat, dan 93 (58,1%; IK 95% 50,4–65,5) tidak memiliki dana darurat atau memiliki kurang dari 3× pengeluaran bulanan. Sebanyak 31 (19,4%) memiliki 3–5× pengeluaran, sedangkan 36 (22,5%) memiliki ≥6×. Pada perempuan, 34,7% tidak memiliki dana darurat (35 dari 101), dibanding 21,1% pada laki-laki (12 dari 57).
Dalam riset CFPB, tingkat emergency savings berkaitan dengan perbedaan pada profil tabungan, utang, kemampuan memenuhi kewajiban, dan financial well-being.[11] Studi CFPB lain juga menemukan hubungan antara kebiasaan menabung, perceived preparedness, financial shocks, dan kesulitan membayar tagihan. [12] Temuan tersebut memberikan konteks eksternal pentingnya dana darurat, tetapi tidak berarti ambang 3× yang digunakan YFD adalah standar universal atau hasil dari penelitian tersebut.
Asuransi kesehatan
Untuk health protection, 108 check-up (67,5%) melaporkan BPJS saja, 39 (24,4%) BPJS + asuransi swasta, 8 (5,0%) asuransi swasta/kantor, dan 5 (3,1%) tidak memiliki proteksi kesehatan.
Asuransi jiwa dan Asuransi pelindung penghasilan/kondisi kritis
Sebanyak 124 check-up (77,5%) tidak memiliki asuransi jiwa; dari 36 yang memiliki asuransi jiwa, 14 (8,8% dari seluruh check-up) melaporkan uang pertanggungan ≥5× pengeluaran tahunan. Sebanyak 128 check-up (80,0%) tidak memiliki income/critical illness protection.
Investasi dan Persiapan Hari Tua
Sebanyak 83 check-up (51,9%) tidak memiliki passive income. 52 (32,5%) memiliki passive income <10% dari pengeluaran bulanan, 18 (11,3%) antara 10–75%, dan 7 (4,4%) >75% pengeluaran bulanan. Kategori tertinggi pada pertanyaan ini adalah >75%, sehingga data tidak dapat menunjukkan berapa responden yang passive income-nya menutup seluruh pengeluaran. Sementara itu 92 check-up (57,5%) tidak memiliki investasi high-risk. 43 (26,9%) memiliki investasi high-risk tetapi belum sepenuhnya memahami instrumennya, dan 25 (15,6%) menyatakan paham dan terencana.
Pada 113 check-up (70,6%; IK 95% 63,2–77,1) berada pada kategori belum ada atau baru mulai menyiapkan tabungan/investasi untuk hari tua. 26 (16,3%) menyatakan rutin menabung, sedangkan 21 (13,1%) menyatakan sudah memiliki rencana yang jelas. Data YFD menggambarkan tahap persiapan yang dilaporkan, bukan kecukupan dana pensiun. Seseorang yang sudah rutin menabung belum tentu memiliki jumlah yang cukup untuk kebutuhan masa depan, sementara seseorang yang belum memiliki akun khusus pensiun belum tentu tidak memiliki aset lain. Karena itu, variabel ini perlu dikembangkan menjadi analisis adequacy pada tahap berikutnya.
Pembahasan
Enam bulan pertama pengumpulan data menunjukkan bahwa sebagian besar pengguna YFD berada pada tahap Surviving atau Growing. Pola finansial yang paling menonjol adalah arus kas negatif berulang, keterbatasan dana darurat, kepemilikan utang konsumtif, rendahnya kepemilikan proteksi penghasilan, dan belum matangnya persiapan hari tua.
Pada sampel ini, laki-laki lebih sering berada pada Steady atau Comfortable dan perempuan lebih sering pada Surviving. Meta-analisis terhadap 44 studi mengidentifikasi gender dan pendapatan rumah tangga di antara faktor yang berhubungan dengan financial literacy,[5] dan telaah Lusardi & Mitchell menekankan bahwa kemampuan finansial berbeda antar subkelompok populasi.[13] Dalam hal ini temuan YFD sejalan secara kualitatif dimana gender dan penghasilan berhubungan dengan kondisi finansial. Namun arah selisih gender tidak konsisten di data nasional Indonesia: SNLIK 2024 melaporkan indeks literasi keuangan perempuan (66,75%) sedikit lebih tinggi daripada laki-laki (64,14%),[7] sedangkan SNLIK 2025 melaporkan sebaliknya, laki-laki 67,32% dan perempuan 65,58%.[8] Pada data YFD, selisih gender mengecil setelah penghasilan dipertimbangkan, yang konsisten dengan penjelasan bahwa perbedaan penghasilan dalam sampel ini berperan. Penghasilan menunjukkan hubungan paling kuat dengan Financial Stage. Namun, karena penghasilan merupakan salah satu komponen skor, hubungan tersebut tidak sepenuhnya independen dari desain instrumen. Temuan ini sebaiknya dipahami sebagai pola deskriptif, bukan bukti bahwa penghasilan secara kausal menentukan kondisi finansial. Laki-laki juga lebih sering memiliki investasi high-risk pada sampel ini (54,4% vs 34,7%). Temuan ini sejalan dengan kajian Charness & Gneezy yang menyimpulkan bahwa laki-laki cenderung lebih bersedia mengambil risiko finansial,[14] tetapi kekuatan bukti tersebut masih diperdebatkan[15]. Data YFD juga tidak dapat membedakan preferensi risiko dari perbedaan akses dan penghasilan.
Kelompok usia <25 tahun lebih sering berada pada Surviving. Sampel YFD hampir tidak mencakup usia lanjut (20 responden berusia ≥35 tahun, 3 di antaranya ≥45), sehingga tidak dapat dibandingkan dengan analisis CFPB terkait temuan perbedaan tabungan darurat menurut usia terutama pada kelompok usia tertua.[11] Pola usia di YFD tidak dapat dipakai untuk menarik kesimpulan tentang siklus hidup.
Pada laporan CFPB 2022 (konsumen AS yang memiliki catatan kredit), 24% responden tidak memiliki tabungan untuk keadaan darurat dan 16% konsumen yang pengeluarannya lebih besar dari pemasukan, 32% yang kurang lebih sama, dan 52% yang lebih kecil.[11] Pada sampel YFD, 29,4% tidak memiliki dana darurat, dan 20,0% pengeluaran lebih besar dari pemasukan, 22,5% kurang lebih sama, dan 57,5% lebih kecil dari pemasukan. Angkanya berada pada kisaran yang kurang lebih sebanding namun data YFD tidak dapat digunakan mewakili populasi Indonesia. Temuan CFPB lain bahwa guncangan finansial berkaitan dengan kesulitan membayar tagihan[10,12] sejalan dengan interpretasi bahwa cash flow dan dana darurat perlu dibaca bersama, meski data YFD tidak mengukur guncangan finansial. Meta-analisis tentang utang tanpa agunan menunjukkan asosiasi dengan kesehatan mental yang lebih buruk.[9] Data YFD hanya mendeskripsikan kepemilikan dan beban hutang; tanpa luaran kesehatan atau stres, kami tidak dapat menilai kesejalanan temuan ini. Sementara itu untuk variabel proteksi, persiapan hari tua, dan passive income, belum ditemukan literatur pembanding langsung yang dapat diverifikasi untuk populasi Indonesia pada saat penulisan, sehingga data YFD tidak dibandingkan dengan literatur. Ini menjadi agenda untuk analisis berikutnya, misalnya dengan data OJK atau BPS.
Kerangka klinis YFD memasangkan setiap tahap dengan rekomendasi terapi, termasuk edukasi keuangan. Data YFD tidak menguji efektivitas intervensi apa pun. Literatur meta-analisis pun belum sepenuhnya sepakat: satu meta-analisis menyimpulkan bahwa efek intervensi edukasi terhadap perilaku finansial kecil dan cenderung memudar seiring waktu[16], sedangkan meta-analisis terhadap uji acak terkontrol yang lebih baru menemukan efek positif pada pengetahuan dan perilaku finansial[17]. Perbedaan rancangan dan populasi studi dapat menjelaskan sebagian perbedaan hasil tersebut. Efektivitas program YFD memerlukan evaluasi tersendiri.
Keterbatasan
Sampel berasal dari pengguna YFD yang datang secara sukarela dan bukan sampel probabilitas, sehingga hasil tidak dapat digeneralisasi sebagai prevalensi kondisi finansial di Indonesia.
Sebanyak 55,6% observasi terkumpul pada April; distribusi waktu dan kemungkinan pengaruh promosi perlu dipertimbangkan.
Dataset didominasi kelompok usia 25–34 tahun dan pekerja serta tidak memuat data pendidikan dan wilayah.
Beberapa subkelompok terlalu kecil untuk inferensi, termasuk Comfortable (n=2), Others (n=2), usia ≥45 tahun (n=3), tanggungan orang tua (n=3), dan pemilik usaha (n=7).
Instrumen belum memiliki validasi eksternal, test–retest, atau validasi longitudinal. Sebanyak 16,3% observasi berada di sekitar batas klasifikasi.
Seluruh data bersifat self-reported dan tidak diverifikasi dengan dokumen.
Analisis bersifat cross-sectional dan eksploratif. Nilai p tidak dikoreksi untuk multiple comparison dan tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan hubungan kausal.
Kesimpulan: Apa yang YFD pelajari?
Pada 160 Financial Health Check-Up dari 157 individu, sebanyak 81,3% check-up berada pada tahap Surviving atau Growing. Masalah yang paling sering dilaporkan adalah cash flow negatif sedikitnya 3 bulan per tahun (61,9%), dana darurat kurang dari tiga kali pengeluaran bulanan (58,1%), utang konsumtif (49,4%), belum atau baru mulai mempersiapkan dana hari tua (70,6%), dan tidak memiliki income protection atau critical illness protection (80,0%).
Penghasilan menunjukkan gradien paling jelas terhadap Financial Stage, tetapi interpretasinya dibatasi oleh fakta bahwa penghasilan merupakan komponen skor. Temuan ini memberikan gambaran awal mengenai pola financial health pengguna YFD dan mendukung perlunya pengumpulan data yang lebih besar, lebih beragam, serta validasi eksternal dan longitudinal terhadap instrumen Financial Stage.
Dari 160 check-up ini, masalah yang paling sering dilaporkan adalah arus kas negatif: 99 responden (61,9%) melaporkan pengeluaran melebihi pemasukan sedikitnya 3 bulan per tahun. Seperti pemeriksaan kesehatan, menuju sehat finansial selalu dimulai dari mengetahui posisi Anda sekarang.
Lakukan Financial Health Check Up 3 menit untuk mengetahui Financial Stage Anda, atau ambil langkah awal memahami pola kebiasaan finansial anda dengan YFD First Aid.
Daftar Pustaka
- [1]Financial Health Network. Financial Health Measurement. https://finhealthnetwork.org/how-we-help/financial-health-measurement (diakses 5 Oktober 2026).
- [2]Consumer Financial Protection Bureau. Financial well-being: the goal of financial education. Januari 2015. https://files.consumerfinance.gov/f/201501_cfpb_report_financial-well-being.pdf
- [3]Brüggen EC, Hogreve J, Holmlund M, Kabadayi S, Löfgren M. Financial well-being: a conceptualization and research agenda. Journal of Business Research. 2017;79:228–237. doi:10.1016/j.jbusres.2017.03.013.
- [4]Your Financial Doctor. Apa itu financial health? Mengapa sehat finansial lebih penting daripada sekadar kaya. Wealthpedia YFD. Juni 2026. https://yourfinancialdoctor.id/wealthpedia/apa-itu-financial-health-mengapa-sehat-finansial-lebih-penting-daripada-sekadar-kaya-azfa (diakses 5 Oktober 2026).
- [5]Ponchio MC, dkk. The antecedents and consequences of financial literacy: a meta-analysis. International Journal of Bank Marketing. 2019;37(6):1462–1479. doi:10.1108/IJBM-10-2018-0281.
- [6]Singh D, Malik G. A systematic and bibliometric review of the financial well-being: advancements in the current status and future research agenda. International Journal of Bank Marketing. 2022;40(7):1575–1609. doi:10.1108/IJBM-06-2021-0238.
- [7]Otoritas Jasa Keuangan. Siaran pers hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2024
- [8]Otoritas Jasa Keuangan. Siaran pers hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025
- [9]Richardson T, Elliott P, Roberts R. The relationship between personal unsecured debt and mental and physical health: a systematic review and meta-analysis. Clinical Psychology Review. 2013;33(8):1148–1162.
- [10]Fulford S, Rush M. Insights from the Making Ends Meet Survey. Consumer Financial Protection Bureau, Research Brief No. 2020-1; Juli 2020.
- [11]Consumer Financial Protection Bureau, Office of Research. Emergency Savings and Financial Security: Insights from the Making Ends Meet Survey and Consumer Credit Panel. Maret 2022.
- [12]Consumer Financial Protection Bureau, Office of Research. Perceived Financial Preparedness, Saving Habits, and Financial Security. September 2020.
- [13]Lusardi A, Mitchell OS. The economic importance of financial literacy: theory and evidence. Journal of Economic Literature. 2014;52(1):5–44.
- [14]Charness G, Gneezy U. Strong evidence for gender differences in risk taking. Journal of Economic Behavior & Organization. 2012;83(1):50–58.
- [15]Nelson JA. Not-so-strong evidence for gender differences in risk taking. Feminist Economics. 2016;22(2):114–142.
- [16]Fernandes D, Lynch JG Jr, Netemeyer RG. Financial literacy, financial education, and downstream financial behaviors. Management Science. 2014;60(8):1861–1883.
- [17]Kaiser T, Lusardi A, Menkhoff L, Urban C. Financial education affects financial knowledge and downstream behaviors. Journal of Financial Economics. 2022;145(2):255–272.