Behavioural Finance

Money Anxiety: Ketika Uang Menjadi Sumber Kecemasan

schedule 6 menit visibility 163
Money Anxiety: Ketika Uang Menjadi Sumber Kecemasan

Memahami bagaimana money anxiety memengaruhi rasa aman, keputusan finansial, gaya hidup, dan cara kita memaknai “cukup”.

Pernahkah Anda menerima gaji, tetapi beberapa hari kemudian sudah mulai merasa cemas?

Bukan karena uang benar-benar habis, melainkan karena muncul berbagai pertanyaan: “Apakah uang saya cukup sampai akhir bulan?”, “Bagaimana kalau ada kebutuhan mendadak?”, “Apa saya bisa membeli barang ini barang itu?” “Kapan saya bisa punya rumah?” “Kenapa teman-teman saya terlihat jauh lebih berhasil?”

Menariknya, kecemasan tentang uang tidak selalu dialami oleh orang yang secara objektif memiliki kondisi keuangan buruk. Seseorang dengan penghasilan yang cukup pun dapat terus merasa tidak aman secara finansial.

Inilah yang sering disebut sebagai money anxiety atau kecemasan terkait uang.

Dalam psikologi, kecemasan bukan hanya berkaitan dengan jumlah uang yang kita miliki, tetapi juga dengan bagaimana kita memaknai uang, mempersepsikan keamanan finansial, membandingkan diri dengan orang lain, serta menghadapi ketidakpastian mengenai masa depan.

Karena itu, memahami kesehatan finansial tidak cukup hanya dengan melihat pendapatan atau jumlah tabungan. Kesejahteraan finansial juga berkaitan dengan rasa aman, kemampuan menghadapi guncangan finansial, kemampuan mencapai tujuan, serta memiliki kebebasan untuk membuat pilihan dalam hidup (Consumer Financial Protection Bureau, 2015).

Lusardi & Mitchell (dalam Putri, A. Ananta, dkk, 2025) menyatakan bahwa kecemasan terhadap keuangan dapat menghambat individu dalam merencanakan masa depannya dengan baik, yang pada akhirnya bisa berdampak negatif terhadap kondisi finansial mereka.

Ketika Uang Menjadi Sumber Kecemasan

Money anxiety dapat muncul dalam berbagai bentuk.

Ada orang yang terus-menerus mengecek saldo rekening. Ada yang sulit tidur karena memikirkan cicilan. Ada pula yang sebenarnya memiliki tabungan, tetapi tetap merasa “belum aman”.

Sebaliknya, kecemasan juga dapat muncul dalam bentuk perilaku yang tampaknya bertolak belakang seperti compulsive buying atau belanja impulsif. Hal ini sering terjadi ketika seseorang merasa tertekan, ia melakukan kegiatan membeli makanan, pakaian, gadget, melakukan perjalanan, atau membeli hal lainnya. Ini dilakukan sebagai cara untuk mendapatkan perasaan nyaman sementara. Sayangnya, setelah rasa nyaman itu didapatkan, muncullah rasa cemas dan bersalah karena pengeluaran bertambah. Untuk mengurangi rasa cemas dan bersalah tersebut, individu tersebut mungkin akan melakukan “pelarian” lagi untuk memberinya rasa nyaman yang pada akhirnya membentuk suatu siklus:

cemas → mencari kenyamanan → belanja → merasa bersalah → semakin cemas

Psikologi membantu kita memahami bahwa perilaku finansial tidak selalu lahir dari perhitungan rasional. Kondisi emosi, perhatian, stres, kebiasaan, dan cara seseorang memandang dirinya sendiri juga dapat memengaruhi keputusan tentang uang.

Hal ini sejalan dengan konsep decision fatigue (Pignatiello, Martin, & Hickman, 2020; Maier, Powell, Murchie, & Allan, 2025). Keputusan finansial tidak hanya terjadi ketika seseorang membeli rumah atau memilih investasi. Bahkan keputusan sederhana seperti membeli kopi, makan di luar, memilih metode pembayaran, atau menentukan apakah bonus akan ditabung atau digunakan untuk self-reward merupakan keputusan finansial. Ketika keputusan terus menumpuk, seseorang dapat menjadi lebih mudah mengambil pilihan yang sederhana, impulsif, atau menunda keputusan—terlebih pada kondisi rasa tidak aman secara finansial yang membuat seseorang lebih sering memikirkan dan mengambil keputusan soal uang (Yu, 2026).

Money Anxiety dan “Rasa Tidak Pernah Cukup”

Salah satu hal yang menarik dalam psikologi uang adalah bahwa “cukup” bukan angka yang sama bagi semua orang.

Seseorang dapat memperoleh kenaikan penghasilan, tetapi belum tentu merasa lebih aman.

Di sinilah kita perlu mengenal konsep financial well-being. Financial well-being bukan sekadar berdasarkan jumlah uang, tetapi berkaitan dengan kemampuan seseorang mengendalikan keuangan sehari-hari, menghadapi kejutan finansial, berada di jalur menuju tujuan finansial, serta memiliki kebebasan memilih hal-hal yang membuat hidupnya lebih bermakna (Consumer Financial Protection Bureau, 2015, 2018). Artinya, memiliki penghasilan tinggi tidak otomatis berarti memiliki financial well-being yang tinggi—data CFPB (2022) turut menunjukkan bahwa tingkat kesejahteraan finansial masyarakat dapat berubah signifikan dari waktu ke waktu, terlepas dari angka pendapatan semata.

Bayangkan seseorang yang pendapatannya meningkat dari Rp15 juta menjadi Rp25 juta per bulan. Secara angka, penghasilannya meningkat signifikan namun, jika setelah kenaikan tersebut standar hidupnya ikut berubah, rumah lebih mahal, mobil lebih mahal, restoran yang dipilih lebih mahal, liburan semakin mahal, dan cicilan bertambah, maka ruang finansialnya mungkin tidak bertambah sebesar yang dibayangkan. Fenomena ini sering disebut lifestyle inflation.

Lifestyle Inflation: Ketika Penghasilan Naik, Gaya Hidup Ikut Naik

Lifestyle inflation terjadi ketika peningkatan pendapatan diikuti dengan peningkatan pengeluaran dan standar hidup.

Contohnya sederhana.

Ketika masih berpenghasilan Rp8 juta, seseorang terbiasa membawa bekal dan menggunakan transportasi umum. Setelah penghasilan menjadi Rp15 juta, ia mulai lebih sering makan di restoran, menggunakan layanan transportasi yang lebih mahal, mengganti ponsel lebih sering, berlangganan berbagai layanan digital, dan mengambil cicilan kendaraan. Tidak ada satu pun keputusan tersebut yang otomatis salah. Masalahnya muncul ketika kenaikan gaya hidup terjadi secara otomatis tanpa disertai peningkatan tujuan finansial. Pada akhirnya, penghasilan meningkat, tetapi perasaan “tidak punya cukup uang” tetap ada.

Dalam perspektif psikologi, salah satu mekanisme yang dapat membantu menjelaskan hal ini adalah hedonic adaptation, yaitu kecenderungan manusia untuk terbiasa terhadap perubahan positif dalam kehidupan. Sesuatu yang awalnya terasa istimewa lama-kelamaan menjadi standar baru.

Dengan kata lain, masalahnya bukan pada menikmati hasil kerja keras.

Pertanyaannya adalah: “Apakah gaya hidup saya meningkat karena pilihan yang memang saya nilai penting, atau karena saya sudah terbiasa dengan standar baru?”

Semakin Membandingkan Diri, Semakin Membuat Uang Terasa Tak Pernah Cukup

Money anxiety juga erat dengan social comparison, yaitu kecenderungan mengevaluasi diri dengan membandingkan kondisi kita dengan orang lain. Perkembangan media sosial membuat proses ini semakin mudah.

Kita melihat teman membeli rumah, rekan kerja membeli mobil baru, orang lain berlibur ke luar negeri, atau seseorang yang terlihat sukses membangun bisnis. Tanpa mengetahui keseluruhan kondisi finansial mereka, kita kemudian menggunakan apa yang terlihat sebagai standar untuk menilai kehidupan sendiri.

Akibatnya muncul pikiran:

“Saya tertinggal.”

“Seharusnya saya sudah punya sebanyak itu.”

“Kenapa saya belum bisa seperti mereka?”

Padahal kita sering membandingkan kehidupan nyata kita dengan potongan terbaik kehidupan orang lain. Jika standar keberhasilan terus berubah mengikuti lingkungan sosial, maka target finansial juga tidak pernah selesai. Setelah mencapai satu angka, muncul angka berikutnya. Inilah salah satu alasan mengapa penting memiliki definisi pribadi mengenai “cukup”.

Perspektif YFD

Di Your Financial Doctor, kami melihat money anxiety sebagai sinyal bahwa hubungan seseorang dengan uang perlu dipahami secara lebih utuh—bukan sekadar dari angka di rekening. Klien dengan kondisi finansial yang secara objektif sudah stabil pun bisa datang dengan kecemasan yang nyata, dan itu bukan sesuatu yang perlu diremehkan hanya karena “seharusnya sudah aman”.

Karena itu, langkah pertama yang kami dorong bukan menambah tabungan atau mengejar target baru, melainkan memahami dulu apakah kecemasan itu berasal dari fakta finansial yang nyata, atau dari pola pikir dan kebiasaan yang selama ini belum disadari.

Mengatasi Money Anxiety: Bukan dengan Berhenti Memikirkan Uang

Mengurangi money anxiety bukan berarti berhenti memikirkan keuangan. Justru, kita perlu membangun hubungan yang lebih sehat dengan uang.

Pertama, bedakan fakta finansial dengan ketakutan finansial.

Misalnya, “Saya hanya memiliki dana darurat untuk tiga bulan” adalah fakta yang dapat diperiksa. Sedangkan “Saya pasti akan mengalami masalah keuangan” adalah rasa cemas yang belum tentu terjadi.

Keduanya membutuhkan respons yang berbeda. Fakta membutuhkan perencanaan. Prediksi membutuhkan evaluasi dan regulasi kecemasan.

Kedua, buat sistem keuangan sebelum emosi mengambil alih. Sebagian pendapatan dapat langsung dialokasikan untuk tabungan atau investasi sesuai tujuan yang sudah ditentukan. Sistem membantu mengurangi kebutuhan untuk membuat keputusan baru setiap kali uang masuk atau ketika godaan muncul.

Ketiga, batasi pilihan yang tidak perlu. Terlalu banyak pilihan dapat meningkatkan choice overload (Chernev, Böckenholt, & Goodman, 2015; Misuraca, Nixon, Miceli, Di Stefano, & Scaffidi Abbate, 2024) dan membuat proses pengambilan keputusan semakin melelahkan.

Keempat, jangan menjadikan kenaikan penghasilan sebagai kewajiban untuk menaikkan seluruh gaya hidup.

Ketika pendapatan bertambah, sebagian boleh digunakan untuk menikmati hidup namun sebagian lainnya dapat digunakan untuk memperbesar keamanan finansial, seperti dana darurat, pelunasan utang, investasi, atau tujuan jangka panjang.

Dengan demikian, kenaikan penghasilan tidak hanya menghasilkan “hidup yang lebih mahal”, tetapi juga “hidup yang lebih aman”.

Pada Akhirnya, Uang Seharusnya Mendukung Kehidupan

Money anxiety mengingatkan kita bahwa hubungan dengan uang bersifat psikologis sekaligus finansial.

Kita tidak hanya bertanya:

“Berapa banyak uang yang saya punya?”

Tetapi juga:

“Apa yang saya rasakan ketika memikirkan uang?”

“Apa yang membuat saya merasa aman?”

“Apakah gaya hidup saya sesuai dengan nilai dan tujuan saya?”

“Apakah saya menggunakan uang untuk membangun kehidupan yang saya inginkan, atau terus mengejar standar yang tidak pernah selesai?”

Financial well-being bukan tentang memiliki jumlah uang yang sempurna. Ia lebih dekat dengan kemampuan untuk memiliki kendali, rasa aman, dan kebebasan memilih.

Karena itu, ketika kecemasan tentang uang muncul, mungkin yang perlu diperbaiki bukan hanya angka di rekening.

Bisa jadi kita juga perlu memahami pikiran, emosi, kebiasaan, dan makna yang selama ini kita berikan kepada uang.

Dan mungkin, salah satu pertanyaan finansial yang paling sehat bukanlah “Berapa banyak yang harus saya punya agar merasa cukup?”, melainkan:

“Seperti apa kondisi finansial yang membuat saya dapat menjalani hidup dengan lebih aman, bermakna, dan sesuai dengan nilai saya?”

Bagaimana penghasilan yang naik justru bisa membuat rasa cukup makin sulit ditemukan sudah kita singgung lewat lifestyle inflation di atas. Pada artikel supporting minggu ini, kita akan membahas fenomena ini lebih dalam.


Artikel ini bertujuan edukasi umum dan bukan pengganti konsultasi profesional. Jika kecemasan terkait uang yang Anda alami sudah memengaruhi tidur, hubungan, atau aktivitas sehari-hari secara signifikan, berbicara dengan psikolog atau psikiater sangat dianjurkan berdampingan dengan langkah-langkah di atas. Untuk memahami pola finansial Anda secara lebih spesifik, Anda juga bisa melakukan Financial Health Check Up bersama tim YFD.

Referensi

  • Chernev, A., Böckenholt, U., & Goodman, J. (2015). Choice overload: A conceptual review and meta-analysis. Journal of Consumer Psychology, 25(2), 333–358. https://doi.org/10.1016/j.jcps.2014.08.002
  • Consumer Financial Protection Bureau. (2015). Financial well-being: The goal of financial education. CFPB.
  • Consumer Financial Protection Bureau. (2018). Pathways to financial well-being: Research brief. CFPB.
  • Consumer Financial Protection Bureau. (2022). Data spotlight: Financial well-being in America, from 2017 to 2020. CFPB.
  • Maier, M., Powell, D., Murchie, P., & Allan, J. L. (2025). Systematic review of the effects of decision fatigue in healthcare professionals on medical decision-making. Health Psychology Review, 19(4), 717–762. https://doi.org/10.1080/17437199.2025.2513916
  • Misuraca, R., Nixon, A. E., Miceli, S., Di Stefano, G., & Scaffidi Abbate, C. (2024). On the advantages and disadvantages of choice: Future research directions in choice overload and its moderators. Frontiers in Psychology, 15, 1290359.
  • Pignatiello, G. A., Martin, R. J., & Hickman, R. L. (2020). Decision fatigue: A conceptual analysis. Journal of Health Psychology, 25(1), 123–135.
  • Putri, A. Ananta Regina, Antong, & Sultan. (2025). Pengaruh financial anxiety, literasi keuangan dan self-control terhadap pengambilan keputusan keuangan. Universitas Muhammadiyah Palopo.
  • Yu, X. (2026). Economic insecurity, decision fatigue, and positive wellbeing in digitally mediated financial decision environments. Frontiers in Psychology, 17, 1858489.
chat