Behavioural Finance

Mengapa Pinjol Membuat Ketagihan?

schedule 5 menit visibility 17
Mengapa Pinjol Membuat Ketagihan?

Pinjol bukan hanya soal meminjam uang. Akses instan, reward yang tidak terduga, dan tekanan emosional dapat membentuk siklus perilaku yang membuat seseorang sulit berhenti setelah pinjaman pertama.

Peringatan soal pinjaman online sudah diserukan di mana-mana. Tapi kenapa masih banyak yang tergoda menggunakannya, bahkan berulang kali?

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa per April 2026, utang masyarakat Indonesia di layanan pinjaman online (pinjol) mencapai Rp102,07 triliun, naik 26,11% dibanding tahun lalu.

Daya Tarik yang Dirancang, Bukan Kebetulan

Tidak seperti pinjaman konvensional yang perlu pengurusan berkas dan melewati analis, pinjol menawarkan proses yang jauh lebih sederhana. Ditambah promosi, diskon, penawaran pinjaman pertama, serta pilihan nominal dan tenor yang terasa fleksibel, keputusan “pinjam dulu aja” menjadi sangat mudah. Masalah finansial yang tadinya butuh perencanaan seolah punya solusi instan: klik, ajukan, cair.

Ini bukan kebetulan desain. Penelitian neurosains tentang adiksi perilaku terutama perjudian dan sebagian produk digital menunjukkan bahwa reward yang datangnya tidak terduga seperti promo dan diskon yang berubah-ubah justru lebih kuat mengikat perilaku dibanding reward yang tetap, karena terus mengaktifkan sistem dopamin di otak (Clark & Zack, 2023). Mekanisme yang sama yang membuat mesin slot judi sulit ditinggalkan.

Seperti sudah dibahas di artikel sebelumnya soal delay discounting (McClure et al., 2004): reward-nya konkret dan instan, tagihannya tertunda dan abstrak.

Siklus Adiksi: Kenapa Sulit Berhenti Setelah Pinjaman Pertama

Neurosains adiksi mengenal model tiga tahap yang berulang dan makin menguat seiring waktu (Koob & Volkow, 2016):

  1. Binge/intoxication — momen “klik, ajukan, cair” itu sendiri: kelegaan instan begitu dana masuk.
  2. Withdrawal/negative affect — begitu tagihan jatuh tempo, muncul cemas, malu, dan tekanan.
  3. Preoccupation/anticipation — untuk meredakan tekanan itu, muncul dorongan mencari pinjaman baru kadang justru untuk menutup pinjaman lama.

Siklus inilah yang disebut gali lubang tutup lubang dan secara neurosains, bukan sekadar kiasan. Setiap putaran memperkuat pola yang sama. Kerangka ini tidak berarti bahwa setiap pengguna pinjol mengalami adiksi klinis, tetapi dapat membantu menjelaskan mengapa pola berulang sulit dihentikan pada sebagian orang (Koob and Volkow, 2016).

Ini bukan cuma soal godaan sesaat. Pada pola perilaku adiktif, area otak yang mengatur kontrol diri (korteks prefrontal) melemah fungsinya, sementara sirkuit dopamin yang mengatur motivasi dan kebiasaan justru semakin dominan (Goldstein & Volkow, 2011; Volkow et al., 2012). Bukan berarti seseorang “kurang niat”, kapasitas otak untuk menahan diri memang sedang tertekan oleh pola yang berulang.

Pinjol Lebih dari Sekadar “Pinjam Uang, Bayar Utang”

Pinjol bukan sebatas ketergantungan finansial, tapi juga emosional. Utang sering menimbulkan rasa malu dan kekhawatiran akan penilaian orang lain, dan stigma ini justru mendorong seseorang menyembunyikan masalah keuangannya alih-alih mencari pertolongan (Moorhouse et al., 2023).

Pada titik ini, masalahnya bukan sekadar jumlah utangnya, tapi juga tekanan psikologis yang menyertai. Tinjauan sistematis terbaru menemukan hubungan konsisten antara utang dan berbagai masalah kesehatan mental, termasuk depresi dan kecemasan, meski hubungan sebab-akibatnya tidak selalu bisa dipastikan dari seluruh penelitian yang tersedia (Dote Pardo & Severino-González, 2026).

Langkah Keluar dari Siklus, Bertahap

Menyadari siklusnya adalah langkah pertama. Berikut beberapa langkah konkret yang bisa dicoba, dari yang paling sederhana:

  1. Hentikan dulu satu hal: jangan tutup pinjaman lama dengan pinjaman baru. Ini langkah paling penting karena justru inilah yang membuat siklus terus berputar. Sesulit apa pun, hindari mengambil pinjaman baru untuk menutup pinjaman lama. Petakan seluruh kewajiban, hubungi penyelenggara pinjaman yang legal untuk membicarakan pilihan penyelesaian dan pendampingan dari orang tepercaya atau pihak yang kompeten.
  2. Bicarakan dengan satu orang yang dipercaya, entah pasangan, keluarga, atau teman dekat. Rasa malu yang membuat masalah ini disembunyikan sendirian justru yang membuatnya terasa lebih berat dari yang sebenarnya.
  3. Cari pendampingan terstruktur, misalnya lewat layanan pengaduan OJK atau lembaga bantuan hukum, terutama bila pinjol yang digunakan berasal dari platform ilegal atau melakukan praktik penagihan yang tidak wajar. OJK mengarahkan pengaduan melalui APPK/Kontak OJK 157, WhatsApp 081157157157, atau email konsumen@ojk.go.id; untuk penawaran pinjol ilegal, pelaporan juga dapat dilakukan melalui SIPASTI OJK.
  4. Pertimbangkan bicara dengan psikolog atau psikiater bila tekanan akibat utang sudah mulai mengganggu fungsi/produktivitas sehari-hari. Ini bukan tanda kegagalan, siklus adiksi yang sudah dibahas di atas menunjukkan bahwa pola ini memang sulit diputus sendirian, dan itu manusiawi. Bantuan profesional bekerja pada akar pola pikir dan responsnya terhadap tekanan, bukan sekadar menghitung ulang angka-angkanya.

PERSPEKTIF YFD

Bukan Soal Kurang Disiplin

Sulitnya keluar dari jeratan pinjol bukan semata soal kurang disiplin, melainkan kombinasi akses mudah, kepuasan instan yang dirancang sengaja, dan stigma yang membuat masalah disembunyikan sendirian. Ketika keinginan mengambil pinjaman berikutnya muncul, coba pikirkan ulang: apakah ini benar-benar kebutuhan mendesak, atau sekadar menunda rasa tidak nyaman sementara?

Ingin memahami pola keuangan dan kebiasaan Anda secara lebih terukur? Financial Health Check Up bersama tim YFD dapat membantu memetakan langkah yang tepat.

Referensi

  • Clark, L. and Zack, M. (2023) ‘Engineered highs: Reward variability and frequency as potential prerequisites of behavioural addiction’, Addictive Behaviors, 140, 107626. doi: 10.1016/j.addbeh.2023.107626
  • Dote Pardo, J. S., & Severino-González, P. (2026). The weight of debt: Unraveling the psychological burden of financial obligations — a systematic review. Mental Health and Social Inclusion, 30(1), 13–23. https://doi.org/10.1108/MHSI-04-2025-0112
  • Goldstein, R. Z., & Volkow, N. D. (2011). Dysfunction of the prefrontal cortex in addiction: Neuroimaging findings and clinical implications. Nature Reviews Neuroscience, 12(11), 652–669. https://doi.org/10.1038/nrn3119
  • Koob, G. F., & Volkow, N. D. (2016). Neurobiology of addiction: A neurocircuitry analysis. The Lancet Psychiatry, 3(8), 760–773. https://doi.org/10.1016/S2215-0366(16)00104-8
  • McClure, S. M., Laibson, D. I., Loewenstein, G., & Cohen, J. D. (2004). Separate neural systems value immediate and delayed monetary rewards. Science, 306(5695), 503–507. https://doi.org/10.1126/science.1100907
  • Moorhouse, M., Goode, M., Cotte, J., & Widney, J. (2023). Helping those that hide: Anticipated stigmatization drives concealment and a destructive cycle of debt. Journal of Marketing, 87(6), 945–965. https://doi.org/10.1177/00222437221146521
  • Volkow, N. D., Wang, G.-J., Fowler, J. S., & Tomasi, D. (2012). Addiction circuitry in the human brain. Annual Review of Pharmacology and Toxicology, 52, 321–336. https://doi.org/10.1146/annurev-pharmtox-010611-134625
chat