Behavioural Finance

Mengapa Kita Sulit Menabung?

schedule 7 menit visibility 142
Mengapa Kita Sulit Menabung?

Bukan soal kurang niat atau kurang disiplin. Ini penjelasan medis dan psikologis kenapa otak kita secara alami sulit menunda kepuasan demi menabung.

Banyak orang beranggapan bahwa kegagalan menabung semata-mata disebabkan oleh kurangnya disiplin, kebiasaan boros, atau minimnya pengetahuan mengenai pengelolaan keuangan. Padahal secara medis dan psikologis, otak manusia memiliki kecenderungan untuk lebih memprioritaskan kebutuhan dan kepuasan yang dirasakan saat ini dibandingkan manfaat yang baru akan dirasakan di masa depan. Akibatnya, anggapan bahwa seseorang hanya perlu “memiliki niat yang lebih kuat” seringkali justru menimbulkan rasa bersalah, tanpa benar-benar menyentuh akar penyebab dari perilaku tersebut.

Menabung merupakan bentuk delayed gratification atau kemampuan menunda kepuasan. Dalam proses pengambilan keputusan finansial sehari-hari, terdapat interaksi antara sistem limbik yang berorientasi pada kenyamanan dan kepuasan instan dengan korteks prefrontal yang berperan dalam perencanaan jangka panjang (Peters & Büchel, 2011). Keputusan finansial yang diambil dalam kehidupan sehari-hari tidak hanya dipengaruhi oleh proses berpikir dan logika, tetapi juga oleh kebiasaan, emosi, dan bias kognitif yang bekerja secara otomatis. Memahami mekanisme biologis dan psikologis ini menjadi langkah awal yang penting untuk membangun strategi pengelolaan keuangan yang lebih efektif.

Perspektif YFD

Di Your Financial Doctor, kami memandang fenomena ini sebagai bukti bahwa financial health tidak bisa didekati hanya melalui peningkatan literasi keuangan atau pengetahuan finansial semata. Bagi kami, financial health bukan sekadar kemampuan mengelola uang, tetapi juga kemampuan meregulasi perilaku, emosi, dan proses pengambilan keputusan sehingga seseorang dapat membangun kehidupan finansial yang sehat secara berkelanjutan.

Tidak sedikit individu yang telah memahami konsep-konsep dasar keuangan namun tetap mengalami kesulitan untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini menunjukkan bahwa tantangan utama seringkali bukan terletak pada kurangnya pengetahuan, melainkan pada regulasi diri serta sistem dan lingkungan yang memengaruhi perilaku finansial. Oleh karena itu, tujuan utama YFD bukan hanya membantu seseorang memperbaiki kondisi finansialnya, tetapi juga membentuk kemampuan pengambilan keputusan finansial yang lebih sehat dan konsisten.

Lalu, mengapa menabung seringkali terasa begitu sulit, bahkan bagi orang yang telah memahami pentingnya mengelola keuangan? Berikut merupakan mekanisme psikologis yang berperan dalam fenomena tersebut.

1. Jebakan “Present Bias

Otak manusia berevolusi dalam lingkungan yang menuntut kemampuan bertahan hidup dari hari ke hari, sehingga secara alami cenderung lebih memprioritaskan kebutuhan dan kepuasan saat ini dibandingkan manfaat yang baru dirasakan di masa depan. Dalam psikologi, fenomena ini dikenal sebagai present bias atau delay discounting. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kecenderungan memberikan nilai yang lebih besar terhadap imbalan yang diperoleh saat ini dibandingkan manfaat jangka panjang berkaitan dengan meningkatnya perilaku impulsif dalam pengambilan keputusan. Rung dan Madden (2018) melalui tinjauan sistematis dan meta-analisis menunjukkan bahwa penurunan kecenderungan delay discounting berkaitan dengan berkurangnya pilihan impulsif.

Akibatnya, hal-hal yang memberikan kepuasan langsung seperti makan malam mewah, gadget baru, atau segelas kopi kekinian, seringkali terasa lebih bernilai dibandingkan keamanan finansial yang manfaatnya baru akan dirasakan bertahun-tahun kemudian. Masa pensiun atau hari tua pun sering dipersepsikan sebagai suatu konsep yang abstrak, sehingga otak lebih sulit mengorbankan kenyamanan saat ini demi kepentingan diri di masa depan.

2. Belanja sebagai Bentuk Regulasi Emosi (Emotional Regulation)

Keputusan finansial tidak selalu didorong oleh kebutuhan, tetapi juga oleh kondisi emosional. Saat seseorang mengalami stres, kelelahan, kecemasan, atau kesedihan, kemampuan untuk mengambil keputusan secara rasional dapat menurun, sementara dorongan untuk mencari sumber kenyamanan atau kepuasan secara cepat dapat meningkat. Aktivitas berbelanja kemudian dapat berfungsi sebagai cara untuk memperoleh perasaan positif sementara atau rasa kendali atas situasi. Dalam kondisi tersebut, uang tidak lagi digunakan sebagai sekadar alat transaksi, melainkan juga sebagai sarana untuk meredakan ketidaknyamanan emosional. Penelitian mengenai perilaku pembelian impulsif menunjukkan bahwa sikap seseorang terhadap uang serta faktor psikologis tertentu dapat berperan dalam terbentuknya pola pengeluaran yang impulsif (Fenton‐O’Creevy & Furnham, 2019). Hal ini menjelaskan mengapa seseorang yang mengalami kelelahan mental menjadi lebih rentan dalam melakukan transaksi impulsif.

3. Decision Fatigue dan Menurunnya Kontrol Diri

Strömbäck et al. (2017) menemukan bahwa kemampuan regulasi diri (self-control) merupakan salah satu faktor yang berhubungan secara positif dengan perilaku finansial dan kesejahteraan finansial seseorang, yang berhubungan dengan perilaku finansial yang lebih bertanggung jawab, termasuk kebiasaan menabung dan menghindari hutang konsumtif. Namun, kapasitas kontrol diri bukanlah sumber daya yang tidak terbatas. Ketika seseorang telah menjalani hari yang penuh dengan pekerjaan, tuntutan emosional, dan berbagai pemilihan keputusan, kemampuan untuk mengendalikan impuls dapat menurun. Kondisi yang dikenal sebagai decision fatigue inilah yang menjelaskan mengapa banyak orang lebih mudah melakukan pembelian impulsif pada saat energi mentalnya telah terkuras, misalnya setelah menjalani hari yang melelahkan.

4. Trauma Masa Lalu dan Survival Mode

Hubungan seseorang dengan uang seringkali dibentuk oleh pengalaman hidupnya sejak usia dini. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pengalaman traumatis pada masa kanak berkaitan dengan meningkatnya impulsivitas dan kesulitan dalam regulasi emosi, yang selanjutnya dapat memengaruhi perilaku finansialnya di masa dewasa. Richardson et al. (2024) menemukan bahwa trauma masa kanak dapat memprediksi kecenderungan pengeluaran impulsif di kemudian hari, dengan impulsivitas dan regulasi emosi berperan sebagai faktor yang menjelaskan hubungan tersebut.

Pada sebagian individu, pengalaman masa lalu yang berkaitan dengan ketidakamanan, kehilangan, atau tekanan dapat membentuk cara seseorang memaknai uang. Uang tidak lagi hanya dipandang sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan, tetapi juga sebagai sarana untuk memperoleh rasa aman, kendali, atau kenyamanan emosional. Pola inilah yang kemudian dapat memengaruhi bagaimana seseorang mengambil keputusan finansial di masa dewasa.

5. Mentalitas Kelangkaan atau Scarcity Mindset

Ketika seseorang hidup dalam kondisi yang dipenuhi rasa kekurangan secara konstan, kapasitas kognitifnya akan terfokus untuk menyelesaikan krisis yang paling mendesak. Fenomena ini dikenal sebagai scarcity mindset, yaitu kondisi ketika keterbatasan sumber daya mengubah cara seseorang memproses informasi dan mengambil keputusan. Huijsmans et al. (2019) menunjukkan bahwa scarcity mindset dapat memengaruhi proses neural yang mendasari pengambilan keputusan konsumen. Dalam kondisi tersebut, perhatian individu akan menjadi sangat sempit, sehingga otak hanya mampu melihat kebutuhan hidup saat ini atau melunasi tagihan dalam waktu dekat.

Konteks Indonesia: Tekanan Sosial dan Lelahnya Sandwich Generation

Dalam konteks Indonesia, berbagai faktor sosial dan budaya turut memperkuat tantangan dalam membangun kebiasaan menabung. Ekspektasi untuk menunjukkan keberhasilan melalui gaya hidup, cara seseorang memaknai kepemilikan dan daya konsumsi, tanggung jawab ke keluarga besar, serta fenomena sandwich generation membuat banyak individu harus menopang kebutuhan diri sekaligus keluarganya (Richins, 2017). Beban finansial yang terus-menerus dan berlipat ganda ini dapat menguras sumber daya psikologis dan kognitif yang diperlukan untuk pembuatan keputusan finansial secara optimal.

Selain itu, kemudahan akses terhadap fasilitas kredit instan seperti PayLater juga dapat menurunkan hambatan emosional dan psikologis dalam melakukan pembelian, karena konsekuensi pembayaran yang tidak dirasakan secara langsung. Dalam situasi seperti ini, membangun kebiasaan menabung menjadi suatu hal yang lebih menantang, terlepas dari pengetahuan pengelolaan keuangan yang mungkin telah dimiliki.

Kesimpulan

Pada akhirnya, kesulitan menabung bukanlah suatu permasalahan yang muncul hanya karena kurangnya pengetahuan mengenai keuangan ataupun lemahnya kemauan. Perilaku finansial merupakan hasil interaksi yang kompleks antara faktor biologis, psikologis, dan sosial yang membentuk cara seseorang berpikir, merasakan, dan mengambil keputusan terkait uang.

Oleh karena itu, kecerdasan kognitif maupun kesuksesan profesional tidak secara otomatis menghasilkan kesehatan finansial (financial health). Pengalaman hidup ikut membentuk hubungan seseorang dengan uang sejak lama. Bagaimana jika hubungan tersebut lebih banyak dibentuk oleh pengalaman yang penuh tekanan atau rasa tidak aman? Pada artikel berikutnya, kita akan membahas lebih dalam mengenai Financial Trauma: Pengertian dan Tanda Awal, serta bagaimana pengalaman tersebut memengaruhi cara seseorang berpikir, merasa, dan mengambil keputusan finansial hingga saat ini.


Artikel ini bertujuan edukasi umum dan bukan pengganti konsultasi finansial personal. Untuk memahami pola perilaku finansial Anda secara lebih spesifik, Anda bisa melakukan Financial Health Check Up bersama tim YFD.

Referensi

  • Peters, J., & Büchel, C. (2011). The neural mechanisms of inter-temporal decision-making: understanding variability. Trends in Cognitive Sciences, 15(5), 227–239. https://doi.org/10.1016/j.tics.2011.03.002
  • Rung, J. M., & Madden, G. J. (2018). Experimental reductions of delay discounting and impulsive choice: A systematic review and meta-analysis. Journal of Experimental Psychology: General, 147(9), 1349–1381.
  • Fenton‐O’Creevy, M., & Furnham, A. (2019). Money attitudes, personality and chronic impulse buying. Applied Psychology: An International Review, 69, 1557–1572. https://doi.org/10.1111/apps.12215
  • Strömbäck, C., Lind, T., Skagerlund, K., Västfjäll, D., & Tinghög, G. (2017). Does self-control predict financial behavior and financial well-being? Journal of Behavioral and Experimental Finance, 14, 30–38.
  • Richardson, T., Egglishaw, A., & Sood, M. (2024). Does childhood trauma predict impulsive spending in later life? An analysis of the mediating roles of impulsivity and emotion regulation. Journal of Child & Adolescent Trauma, 17(2), 275–281. https://doi.org/10.1007/s40653-023-00600-7
  • Huijsmans, I., Ma, I., Micheli, L., Civai, C., Stallen, M., & Sanfey, A. G. (2019). A scarcity mindset alters neural processing underlying consumer decision making. Proceedings of the National Academy of Sciences, 116(24), 11699–11704. https://doi.org/10.1073/pnas.1818572116
  • Richins, M. L. (2017). Materialism pathways: The processes that create and perpetuate materialism. Journal of Consumer Psychology, 27(4), 480–499.
chat