Lifestyle Inflation: Ketika Penghasilan Naik, Pengeluaran Ikut Naik
Memahami mengapa kenaikan penghasilan tidak selalu membuat keuangan terasa lebih lega, bagaimana lifestyle inflation terbentuk, serta cara menjaga pengeluaran tetap selaras dengan tujuan keuangan.
Seringkali, ketika kita mendapatkan kenaikan gaji, kondisi keuangan yang seharusnya terasa lebih menenangkan malah terasa tetap pas-pasan.
Seringkali, yang dulunya jarang makan di luar rumah, ketika penghasilan meningkat malah semakin sering. Pengeluaran yang dulunya tidak ada, malah menjadi ada.
Ini bisa menjadi salah satu bentuk lifestyle inflation, yaitu adanya kecenderungan individu untuk meningkatkan pengeluaran sebagai respons terhadap kenaikan pendapatan, yang dapat menghambat kemampuan mereka untuk menabung dan mencapai tujuan keuangan (Kenton, 2026).
Mengapa Lifestyle Inflation Bisa Terjadi?
Salah satu faktor utama yang menyebabkan lifestyle inflation adalah keinginan untuk me-reward diri setelah bekerja keras dengan meningkatkan standar hidup (Fahraini, 2025). Di sisi lain, tekanan sosial juga dapat membuat seseorang meningkatkan gaya hidupnya (Fahraini, 2025).
Salah satu teori yang dapat menjelaskan hal tersebut adalah teori perbandingan sosial atau social comparison, yaitu kecenderungan individu menilai atau mengukur dirinya dengan membandingkan pendapat, kemampuan, atau karakteristiknya dengan orang lain (Festinger dalam Dinata & Ninawati, 2025). Misalnya, ketika melihat teman mendapatkan mobil baru, berlibur ke luar negeri, atau tinggal di apartemen yang lebih bagus, standar tentang “hidup yang seharusnya” dapat ikut bergeser.
Selain itu, lifestyle inflation merupakan fenomena multidimensional yang dapat dipengaruhi oleh interaksi antara literasi keuangan, tekanan sosial, teknologi finansial, dan tuntutan budaya (Amin, 2026).
Mengapa Setelah Naik Gaji Kita Cepat Terbiasa?
Ada fenomena psikologis yang disebut hedonic adaptation atau adaptasi hedonis. Sederhananya, manusia cenderung terbiasa dengan perubahan positif dalam kehidupannya. Mendapatkan ponsel baru mungkin membuat kita senang pada awalnya. Tetapi beberapa bulan kemudian, ponsel tersebut terasa biasa saja. Rumah yang dulu terasa mewah akhirnya menjadi standar baru.
Adaptasi hedonis dapat membuat orang merasa terjebak pada lingkaran atau “treadmill” yang tidak pernah berakhir. Mereka terus-menerus mencari lebih banyak kekayaan, status, kekuasaan, dan sumber kepuasan eksternal lainnya untuk merasa puas (Damayanti, 2023). Fenomena ini sering dijelaskan melalui konsep hedonic treadmill, yaitu peningkatan kondisi hidup dapat memberikan peningkatan kebahagiaan dalam jangka pendek, tetapi manusia dapat beradaptasi sehingga tingkat kepuasan kembali mendekati kondisi sebelumnya.
Akibatnya, kita dapat terus mengejar “sedikit lebih baik” tanpa pernah merasa benar-benar cukup.
Dampak Lifestyle Inflation
Perubahan gaya hidup seperti peningkatan konsumsi makanan, perubahan penggunaan moda transportasi, atau pembelian gadget baru ketika terjadi kenaikan pendapatan juga akan memberikan dampak bagi keuangan.
Ketika peningkatan pendapatan tidak disertai dengan penguatan literasi keuangan berbasis perilaku, pengelolaan utang digital, serta perencanaan keuangan yang mempertimbangkan konteks sosial dan budaya masyarakat Indonesia, individu dapat lebih rentan mengambil keputusan yang kurang sesuai dengan kondisi dan tujuan keuangan jangka panjangnya (Amin, 2026).
Dampaknya, seseorang dapat memiliki penghasilan yang meningkat tetapi tetap memiliki tabungan atau investasi yang terbatas karena sebagian besar tambahan penghasilan terserap untuk memenuhi gaya hidup yang lebih tinggi. Kondisi ini menjadi lebih rentan ketika menghadapi pengeluaran tak terduga, terutama kehilangan pekerjaan atau kebutuhan mendesak. Tanpa dana darurat yang memadai, seseorang mungkin harus berutang atau mengorbankan kebutuhan lain untuk tetap bertahan (Fahraini, 2025).
Bagaimana Menghindari Lifestyle Inflation?
Lifestyle inflation tidak harus diatasi dengan hidup serba hemat. Tujuannya adalah memastikan bahwa kenaikan penghasilan tidak otomatis berarti seluruh kenaikan tersebut berubah menjadi pengeluaran.
1. Lakukan perubahan nyata pada anggaran. Hitung perubahan pada anggaran ketika gaji naik dan tentukan bagaimana tambahan dana tersebut akan memengaruhi kondisi keuangan Anda.
2. Rencanakan pengeluaran dengan realistis. Tetapkan anggaran belanja sekaligus alokasikan dana untuk tabungan masa depan dan investasi, alih-alih sekadar menuruti keinginan sesaat yang muncul.
3. Siapkan dana darurat. Setiap orang membutuhkan bantalan keuangan untuk menghadapi situasi darurat. Dana darurat yang mencakup biaya hidup selama tiga hingga enam bulan dapat menyediakan uang tunai untuk kebutuhan mendesak tanpa harus bergantung pada utang atau kredit. Besarnya kebutuhan tetap perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing.
4. Utamakan pengalaman yang sesuai dengan nilai pribadi. Jika penghasilan meningkat, pertimbangkan untuk menggunakan uang pada hal yang benar-benar memberi nilai bagi kehidupan, baik pengalaman, waktu bersama keluarga, pembelajaran, maupun kebutuhan lain. Tidak ada satu pilihan yang otomatis lebih baik untuk semua orang.
5. Lakukan perubahan secara bertahap. Perubahan gaya hidup yang drastis mungkin membawa biaya tambahan tersembunyi, seperti biaya servis yang lebih mahal untuk mobil mewah atau biaya perawatan ekstra untuk rumah yang lebih besar. Pertimbangkan untuk merayakannya secara sederhana saja. Dengan begitu, kita tetap bisa merayakan pencapaian tersebut sembari tetap fokus pada tujuan jangka panjang.
PERSPEKTIF YFD
Lifestyle inflation menjadi masalah bukan ketika kita menikmati hasil kerja, tetapi ketika kita kehilangan kendali atas alasan di balik pengeluaran.
Karena itu, kesehatan finansial bukan hanya tentang berapa banyak uang yang kita hasilkan, tetapi juga tentang hubungan kita dengan uang.
Jika money anxiety membuat kita takut uang tidak pernah cukup, lifestyle inflation dapat membuat standar “cukup” terus bergerak menjauh. Memahami hubungan antara emosi, perbandingan sosial, identitas, dan perilaku konsumsi dapat menjadi langkah awal untuk membangun hubungan dengan uang yang lebih sehat. Langkah kecil untuk mengenali pola tersebut dapat dimulai dengan YFD First Aid.
Untuk memahami pola finansial Anda secara lebih spesifik, Financial Health Check Up bersama tim YFD juga dapat menjadi langkah awal.
Catatan: Artikel ini bertujuan untuk edukasi umum dan bukan pengganti konsultasi profesional. Keputusan finansial tetap perlu disesuaikan dengan kondisi, kebutuhan, dan tujuan masing-masing individu.
Daftar Referensi
Amin, Andi Mustika. (2026). Literasi Keuangan dan Lifestyle Inflation di Kalangan Pegawai Perkotaan di Indonesia: Sebuah Studi Fenomenologis. Makassar: Universitas Negeri Makassar.
Damayanti, Almira Novelia. (2023). Apa itu Hedonic Treadmill?: Menurut Psikolog. https://satupersen.net/blog/apa-itu-hedonic-treadmill-menurut-psikolog
Dinata, Yolanda Devina, & Ninawati. (2025). Hubungan Antara Social Comparison Dan Life Satisfaction Pada Dewasa Awal Pengguna Media Sosial Instagram. Jakarta: Universitas Tarumanegara.
Fahraini, Radela. (2025). Gaji vs. Gaya Hidup: Waspadai Lifestyle Inflation. https://binus.ac.id/bekasi/2025/03/gaji-vs-gaya-hidup-waspadai-lifestyle-inflation/
Kenton, Will. (2026). Lifestyle Inflation: What It Is, How It Works, and Example. https://www.investopedia.com/terms/l/lifestyle-inflation.asp