Financial Foundation

“Kalau Risiko tidak terjadi, uangku gimana?”

schedule 4 menit visibility 260
“Kalau Risiko tidak terjadi, uangku gimana?”

Membahas kesalahan yang paling sering terjadi saat memilih asuransi, mulai dari fokus pada uang kembali hingga tidak memahami kebutuhan perlindungan.

Kita sudah membahas sebelumnya bahwa asuransi bukan investasi. Asuransi itu justru baru terasa fungsinya pas risiko yang gak diinginkan itu benar-benar terjadi, bukan berapa banyak "uang kembali"-nya. Tapi kesalahpahaman itu cuma satu dari beberapa kesalahan yang paling sering dibuat dalam memilih asuransi, apa aja?

1. Fokus ke “uang bisa balik berapa dan kapan?”

Pertanyaan ini sangat manusiawi, manusia cenderung tidak mau rugi dan tidak mau merasa bodoh. Tapi kalau alasan utama beli asuransi adalah return, kita cenderung lupa kalo sejak awal yang kita beli itu perlindungan bukan nabung atau bahkan Investasi.

Bayangin beli payung terus kecewa karena selama setahun gak pernah hujan. Padahal karena gak hujan, payung itu gak pernah perlu dipakai. Sama halnya dengan asuransi, gak terjadi klaim bukan berarti perlindungannya tidak bernilai.

Produk yang emang nawarin "uang balik" (endowment, whole life, unit link) itu ada, tapi bukan berarti gratis. Preminya jauh lebih besar dibanding asuransi murni dengan manfaat proteksi yang sama, karena sebagian preminya emang dialokasikan buat dikembalikan nanti. Jadi "uang balik" itu sebenarnya uang kamu sendiri yang dibayar di muka lebih besar.

2. Fokus sama angka di Illustrasi

Angka illustrasi lebih gampang dicerna dibanding risiko. Begitu liat ilustrasi yang nunjukin nilai Uang Pertanggunan (UP) atau Nilai Tunai, fokus kita langsung ke situ.

Coba hitung sendiri satu angka ini: total premi yang kamu bayar selama masa polis (misalnya premi tahunan dikali 20), lalu bandingin sama UP yang didapat kalau risiko terjadi. Kalau selisihnya kecil, artinya proteksinya gak sebesar yang keliatan di ilustrasi. Ilustrasi angka terutama buat produk yang ada unsur investasinya tidak terjamin, karena kinerja investasi tidak bisa dijamin.

3. Beli Asuransi tanpa paham kebutuhan perlindungannya apa

Ini kesalahan paling krusial. "Produk apa yang bagus?", bukan pertanyaan pertama, harusnya "risiko apa yang perlu saya lindungi?"

Orang dengan tanggungan punya kebutuhan perlindungan yang beda dengan yang tanpa tanggungan. Karyawan juga beda kebutuhannya sama pemilik bisnis atau pekerja mandiri. Semakin kita paham produk dan kebutuhan kita sendiri, keputusan yang diambil akan lebih baik.

4. Menganggap semua Asuransi sama aja

Asuransi kesehatan, jiwa, kecelakaan, penyakit kritis, punya fungsi yang berbeda. Gak ada satu produk cocok buat semua orang. Pertanyaan yang perlu ditanyakan itu bukan "asuransi yang paling bagus apa?" tapi "asuransi yang sesuai risiko, kebutuhan, kondisi keuangan, dan tujuan saya apa?"

Cara Menghindari Kesalahan dalam membeli Asuransi

  1. Hitung berapa kali pendapatan tahunan kamu yang dibutuhkan buat nutup tanggungan keluarga kalau kamu gak bisa lagi cari nafkah (bukan cuma nebak-nebak, tapi dihitung dari total cicilan + biaya hidup tahunan tanggungan x sisa tahun tanggungan itu perlu dibiayai)
  2. Bandingkan premi produk yang ditawarkan dengan simulasi kalau selisih preminya (dibanding produk paling murah dengan manfaat sama) itu diinvestasikan sendiri selama masa yang sama
  3. Minta dokumen Ringkasan Informasi Produk dan Layanan (RIPLAY), ini dokumen wajib dari OJK yang isinya manfaat, biaya, dan risiko dalam format ringkas, bukan brosur marketing

PERSPEKTIF YFD

Di YFD, kami melihat asuransi bukan sebagai produk yang harus dimiliki sebanyak-banyaknya, tetapi sebagai alat untuk mengelola risiko yang memang relevan dengan kondisi seseorang. Karena itu, pembahasan tentang asuransi seharusnya dimulai dari risiko, kebutuhan perlindungan, kondisi keuangan, dan tujuan finansial seseorang, bukan dari produk atau ilustrasi manfaatnya.

Memiliki asuransi bukan berarti kondisi finansial otomatis menjadi sehat. Sebaliknya, perlindungan yang sesuai kebutuhan dapat menjadi salah satu bagian dari financial health karena membantu menjaga agar satu risiko besar tidak mengganggu cashflow dan tujuan finansial yang sudah dibangun.

Data SNLIK 2025 nunjukin indeks literasi perasuransian Indonesia baru di angka 45,45%, sementara indeks inklusinya 28,50%, artinya, masih ada ruang besar buat ningkatin pemahaman soal asuransi [1].

Data terbaru SNLIK 2026 menunjukkan indeks literasi keuangan nasional mencapai 69,57% dan indeks inklusi keuangan mencapai 93,61%. Pada tahun yang sama, dari pemilik produk asuransi non-Penyelenggara Program Jaminan Sosial, baru 12,47% yang mengetahui adanya penjaminan polis. Angka ini menunjukkan bahwa pemahaman masyarakat terhadap aspek perlindungan dalam produk asuransi masih menjadi bagian penting dari literasi finansial [2].

Mau tau produk asuransi apa yang sesuai sama kebutuhan dan tahap kesehatan finansialmu saat ini?

Konsultasi dengan tim YFD bisa jadi langkah awal buat mulai dari risiko, bukan dari produk.

Mulai dari kondisi finansialmu.

Financial Health Check Up bersama tim YFD juga dapat menjadi langkah awal untuk memahami kondisi dan kebutuhan finansialmu.

Financial Health Check Up

Artikel terkait: Asuransi Bukan Investasi

Catatan: Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan asesmen atau konsultasi profesional yang disesuaikan dengan kondisi individu. Untuk memahami pola finansial Anda secara lebih spesifik, Financial Health Check Up bersama tim YFD juga dapat menjadi langkah awal.


Daftar Pustaka

1. Otoritas Jasa Keuangan, Badan Pusat Statistik. Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Tahun 2025. Jakarta: OJK; 2025. [Online]

2. Otoritas Jasa Keuangan, Lembaga Penjamin Simpanan, Badan Pusat Statistik. Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Tahun 2026. Jakarta: OJK; 2026. [Online]

chat