Behavioural Finance

Kenapa Budget Selalu gagal?

schedule 7 menit visibility 90
Kenapa Budget Selalu gagal?

Sudah mencoba berbagai metode budgeting, tetapi budget selalu jebol? Mungkin masalahnya bukan pada disiplin Anda, melainkan pada cara sistem budget tersebut dirancang.

Pernah dengar metode budgeting 50/30/20? Sudah dicoba, tapi budget selalu jebol?

Hal ini bisa berkaitan dengan alasan psikologis. Dan solusinya bukan berhenti budgeting.

Narasi di media sosial sering menggambarkan 50/30/20 sebagai metode yang mudah digunakan dan banyak direkomendasikan oleh perencana keuangan. Banyak individu sudah mencoba mengikuti rumusnya, tetapi budget justru jebol di minggu ketiga. Angka dan persentasenya mungkin sudah sesuai rekomendasi, tetapi hasilnya tetap gagal.

Dengan kondisi seperti ini, pertanyaannya muncul: apakah budgeting memang tidak berguna? Atau ada yang salah dari cara kita melakukannya?

Bukan Budgeting-nya yang Salah

Sebelum dilanjutkan, penting untuk digarisbawahi: kondisi ini bukan alasan untuk berhenti membuat budget. Perencanaan pengeluaran tetap menjadi salah satu bagian penting dalam pengelolaan keuangan.

Yang sering menjadi akar masalah bukan prinsip budgeting itu sendiri, melainkan ketika seseorang menyusun budget yang terlalu kaku, seolah angka yang sudah ditetapkan tidak boleh diganggu gugat. Budget akhirnya tidak menjadi sistem yang dapat menyesuaikan diri dengan pola pikir, perilaku, dan kondisi hidup manusia.

PERSPEKTIF YFD

Di Your Financial Doctor, kami memandang budgeting bukan sebagai daftar aturan yang harus dipatuhi sempurna, tetapi sebagai alat yang perlu disesuaikan dengan cara berpikir dan kondisi hidup masing-masing orang.

Budget yang gagal tidak selalu berarti penggunanya kurang disiplin. Bisa jadi, sistemnya sejak awal tidak dirancang untuk menghadapi kenyataan hidup yang tidak selalu serapi rumus di atas kertas.

Bagi kami, tujuan budgeting bukan mengejar kepatuhan 100% terhadap setiap angka, tetapi membangun kebiasaan finansial yang dapat bertahan dalam jangka panjang. Itu berarti memberi ruang untuk dinamika kehidupan, tanpa menganggap seluruh rencana gagal hanya karena ada satu perubahan.

Fleksibel bukan berarti bebas tanpa batas. Yang dapat bergeser adalah pembagian antar kategori sesuai kebutuhan, sementara total pengeluaran tetap perlu berada dalam batas kemampuan finansial.

Kenapa Kategori Budget yang Kaku Sering Jebol

Richard Thaler memperkenalkan konsep mental accounting, yaitu kecenderungan manusia membagi uang ke dalam “kotak-kotak mental” yang berbeda, seperti makan, hiburan, transportasi, dan kebutuhan lainnya.

Dalam praktiknya, uang di satu kategori dapat diperlakukan seolah tidak bisa digunakan untuk kategori lain, padahal secara nyata seluruh uang tersebut tetap merupakan bagian dari sumber daya finansial yang sama.

Inilah salah satu alasan mengapa budgeting yang terlalu kaku per kategori dapat terasa mudah “jebol”. Ketika satu kategori habis lebih cepat, seseorang dapat merasa terjebak, meskipun sebenarnya masih terdapat sisa dana yang dapat dialokasikan dari kategori lain.

Budget yang memungkinkan penyesuaian antar kategori sesuai kebutuhan riil bulan tersebut dapat menjadi lebih berkelanjutan dibandingkan sistem yang menuntut kepatuhan sempurna pada setiap kotak pengeluaran.

Kasus Nyata: Ketika Budget Justru Membuat Kita Belanja Lebih Banyak

Larson dan Hamilton (2012), dalam penelitian mereka di Journal of Marketing Research, menemukan bahwa batas harga yang ditetapkan sebelum berbelanja dapat menghasilkan efek yang tidak selalu intuitif.

Ketika seseorang sudah menentukan rentang harga, fokusnya dapat bergeser ke membandingkan kualitas barang dalam rentang tersebut, bukan lagi mempertimbangkan apakah ia perlu mengeluarkan uang sebanyak itu. Dalam kondisi tertentu, seseorang bahkan dapat terdorong memilih opsi yang paling mahal dalam batas budget yang sudah ditetapkan.

Budget kemudian dapat berubah fungsi dari “batas maksimal” menjadi angka yang terasa layak untuk dicapai.

Ini bukan berarti budgeting tidak berguna. Temuan tersebut justru menunjukkan bahwa cara kita menetapkan batas dan menggunakan budget dapat memengaruhi proses pengambilan keputusan.

Yang Benar-benar Bekerja: Strategi, Bukan Sekadar Niat

Davydenko, Kolbuszewska, dan Peetz (2021) melakukan meta-analisis terhadap 29 studi mengenai strategi financial self-control. Penelitian ini tidak hanya melihat niat atau motivasi, tetapi juga strategi konkret dalam mengendalikan perilaku finansial.

Contohnya termasuk mengatur transfer otomatis ke tabungan atau mengurangi kemudahan akses untuk berbelanja, seperti menghapus informasi kartu kredit dan menutup layanan paylater yang tidak diperlukan.

Strategi-strategi konkret tersebut menunjukkan efek dalam membantu mengurangi pengeluaran dan meningkatkan tabungan.

Artinya, struktur dan sistem memang penting. Yang sering menjadi masalah bukan budgeting sebagai sebuah konsep, tetapi ketika budget hanya menjadi angka di kepala atau di atas kertas tanpa sistem yang membantu seseorang menjalankannya.

Ketika Satu Pelanggaran Kecil Berubah Menjadi Kegagalan Total

Ada pola psikologis yang dapat membantu menjelaskan mengapa budget yang sedikit meleset terkadang justru berakhir dengan pengeluaran yang jauh lebih besar.

Polivy dan Herman (1985), melalui penelitian mengenai perilaku diet, menjelaskan sebuah pola ketika seseorang merasa telah “melanggar” aturan yang dibuatnya. Setelah merasa rencana sudah rusak, seseorang dapat cenderung melepaskan kontrol sepenuhnya daripada kembali menyesuaikan perilakunya.

Fenomena ini sering dikenal sebagai what-the-hell effect: ketika standar kesempurnaan sudah dianggap gagal, aturan terasa tidak lagi perlu dipatuhi.

Pola serupa dapat terjadi dalam pengelolaan uang. Satu pembelian yang melebihi budget bisa membuat seluruh rencana bulan tersebut terasa “sudah gagal”. Alih-alih berhenti dan melakukan penyesuaian, seseorang dapat melanjutkan pengeluaran karena merasa kerusakannya sudah terlanjur terjadi.

Pola inilah yang dapat menjadi salah satu jalan menuju belanja impulsif.

Konteks Indonesia: Kenapa Ini Relevan untuk Kita

Budget yang sangat kaku, termasuk pembagian persentase seperti 50/30/20, sering dipahami sebagai rumus universal. Padahal, kondisi kehidupan dan pola pengeluaran setiap orang tidak selalu sama.

Dalam konteks Indonesia, terdapat berbagai pengeluaran yang mungkin tidak datang secara rutin setiap bulan. THR yang datang setahun sekali, kebutuhan mendadak untuk keluarga besar, mudik, hingga pengeluaran musiman dapat membuat pembagian kategori yang terlalu kaku menjadi lebih mudah terganggu.

Budaya saling membantu dalam keluarga dan lingkungan sosial juga terkadang sulit dimasukkan ke dalam satu kategori pengeluaran yang tetap.

Karena itu, sebagian orang mungkin membutuhkan sistem budgeting yang lebih fleksibel dan sesuai dengan kondisi finansial serta pola hidupnya, bukan sekadar mengikuti satu rumus yang sama untuk semua orang.

Kesimpulan

Budget yang gagal bukan berarti Anda kurang disiplin. Terkadang, itu merupakan tanda bahwa desain budget yang digunakan belum sesuai dengan pola pikir, perilaku, dan kondisi kehidupan yang sebenarnya.

Budgeting tetap merupakan salah satu alat penting dalam kesehatan finansial. Namun, budget yang dapat bertahan dalam jangka panjang bukan selalu yang paling ketat, melainkan yang cukup realistis untuk membantu seseorang mengambil keputusan secara konsisten.

Lalu, ketika satu pelanggaran kecil dalam budget berubah menjadi belanja besar-besaran yang jauh dari rencana, apa yang sebenarnya terjadi dalam proses pengambilan keputusan kita?

Hal tersebut akan kita bahas lebih dalam pada artikel berikutnya tentang belanja impulsif dan cara mengendalikannya.

Catatan: Artikel ini bertujuan untuk edukasi umum dan bukan pengganti konsultasi finansial personal.

Untuk memahami pola perilaku finansial dan kondisi keuangan Anda secara lebih spesifik, Anda dapat melakukan Financial Health Check Up bersama tim Your Financial Doctor.

Referensi

  1. Thaler, R. H. (1999). Mental Accounting Matters. Journal of Behavioral Decision Making, 12(3), 183–206.
  2. Larson, J. S., & Hamilton, R. (2012). When Budgeting Backfires: How Self-Imposed Price Restraints Can Increase Spending. Journal of Marketing Research, 49(1).
  3. Davydenko, M., Kolbuszewska, M., & Peetz, J. (2021). A meta-analysis of financial self-control strategies. PLOS ONE, 16(7).
  4. Polivy, J., & Herman, C. P. (1985). Dieting and Binging: A Causal Analysis. American Psychologist, 40(2), 193–201.
chat