Behavioural Finance

Decision Fatigue: Pengaruhnya dalam Keputusan Finansial

schedule 7 menit visibility 26
Decision Fatigue: Pengaruhnya dalam Keputusan Finansial

Memahami bagaimana kelelahan mental memengaruhi kualitas keputusan finansial, serta cara menjaga ketajaman keputusan setiap hari.

Hidup selalu dipenuhi dengan pilihan. Ketika kita membuka mata di pagi hari, pilihan telah mengantri. Apakah saya bisa masih tidur? Apa sarapan yang saya makan? Pakaian yang saya kenakan hari ini? Pekerjaan apa yang perlu saya selesaikan lebih dulu? Serta serangkaian pilihan lain untuk memenuhi pagi hari kita.

Perjalanan pilihan kita tentu tidak selesai sampai disana. Seiring waktu berjalan, keputusan yang kita ambil terus bertambah dari yang mudah di tentukan hingga yang kompleks.

Otak kita yang terus-menerus bekerja untuk menentukan berbagai macam jawaban untuk pilihan yang telah mengantri pun dapat mencapai batasnya. Kemampuan menganalisis yang tadinya matang perlahan menurun, dan pilihan kompleks mulai diselesaikan dengan analisis yang lebih sederhana.

Semakin banyak keputusan yang harus dibuat terlebih ketika keputusan itu menyita penuh fokus dan perhatian kita, atau ketika keputusan kompleks, penting, dan penuh ketidakpastian datang silih berganti, beban mental yang diperoleh mulai menunjukkan hasil akumulasinya. Otak yang telah lelah memikirkan segala kompleksitas mulai mencari jalan yang lebih mudah: menunda keputusan, mengambil pilihan yang terasa lebih sederhana, hanya mengikuti kebiasaan, atau mengambil keputusan dengan pertimbangan yang lebih sedikit.

Dalam kondisi ini, “Flash sale 70% akan selesai dalam waktu 15 menit”, kalimat ini terkesan sederhana, tapi ketika otak kita sudah lelah dengan segala beban mental yang terakumulasi, kalimat itu berubah menjadi ajakan yang menggiurkan. Komitmen yang sebelumnya sudah dibuat untuk mengurangi pengeluaran bulan ini, seakan menguap menjadi “aku harus segera membelinya”, tidak lagi berdasarkan penghematan yang direncanakan atau analisis kebutuhan, melainkan keinginan dengan impulsivitas.

Apa itu Decision Fatigue?

Analisis konseptual oleh Pignatiello, Martin, dan Hickman (2020) menyatakan bahwa istilah decision fatigue sudah banyak digunakan namun belum menemukan definisi yang sama. Mereka menyimpulkan ada tiga kelompok faktor yang dapat mendahului decision fatigue: faktor yang berhubungan dengan proses mengambil keputusan, self-regulation, serta kondisi atau situasi di sekitar orang tersebut.

Melengkapi hal ini, tinjauan sistematik yang dilakukan oleh Maier, dkk pada tahun 2025 menyatakan bahwa decision fatigue merupakan kecenderungan untuk memilih pilihan yang lebih sederhana (usaha mental yang lebih kecil) sebagai akibat dari akumulasi kelelahan mental dari keputusan-keputusan sebelumnya.

Kita dapat menyimpulkan bahwa decision fatigue berkaitan erat dengan kelelahan mental yang dialami oleh seseorang akibat akumulasi tekanan-tekanan sebelumnya. Perlu diingat, ini bukan berarti otak kita memiliki jatah tertentu untuk menjalani keputusan, yang ketika habis membuat kita masuk ke versi rendah dari pengambilan keputusan. Berdasarkan penelitian yang ada, decision fatigue lebih tepat dipahami sebagai kecenderungan, bukan hukum yang absolut. Hanya saja, kecenderungan ini mengajarkan bahwa semakin kompleks dan semakin banyak tekanan keputusan yang harus diambil, ada “titik lelah” dalam otak kita terkait pengambilan keputusan.

Mengatur keuangan, adalah salah satu keputusan kita yang membutuhkan analisa serta pemikiran kompleks, sehingga juga mengambil peran penting dalam kapasitas otak kita.

Relevansi terhadap Keputusan financial kita?

Mungkin kita merasa hanya membuat beberapa keputusan finansial yang penting setiap bulan. Kita mengatur budget di awal dan mungkin ada pengeluaran yang harus kita pertimbangkan di luar budget. Padahal, pada kenyataannya di dalam mengelola keuangan ada begitu banyak keputusan kecil di dalamnya. Sebagai contoh:

  • Apakah hari ini saya membeli kopi atau tidak?
  • Makan di luar atau tidak? Mau makan apa? Chinese food, indonesiam food? dll
  • Saya bayar dengan uang cash, QRIS, debit, kredit atau paylater?
  • Ada bonus yang saya dapat, haruskah ditabung, diinvestasikan atau self reward?
  • Saham mana yang harus saya beli?
  • Perlukah asuransi digunakan? Jika ya, asuransi apa?
  • Perlukah saya cicil? Jika ya, cicilan selama 3, 6 atau 12 bulan?

Selain keputusan seperti contoh di atas, kita juga sering dihadapkan mengenai keputusan finansial yang lebih kompleks seperti:

  • Apakah investasi saya perlu dijual karena pasar sedang turun, atau lebih bijak untuk hold?
  • Apakah saya perlu melakukan pinjaman untuk memulai bisnis?
  • Apakah investasi dengan ROI yang saya analisis layak untuk diambil?
  • Apakah saya perlu membeli mobil, secara cash atau kredit?
  • Apakah sekarang waktunya saya membeli rumah?

Ternyata, keputusan finansial bukan hanya dilakukan sesekali dalam satu bulan, bahkan hal sehari-hari seperti makan dan minum turut membawa pertimbangan finansial di baliknya, membuat kita diperhadapkan dengan keputusan yang semakin luas dan kompleks.

Fenomena yang terjadi akibat ada banyaknya pilihan yang bisa kita ambil menghadapkan kita pada kondisi choice overload. Misuraca, dkk pada tahun 2024 yang juga sejalan dengan penelitian Chernev, dkk pada tahun 2015 menyampaikan bahwa choice overload tidak semata-mata terjadi karena jumlah pilihan yang banyak namun tergantung pada konteks pilihan, karakteristik orang yang mengambil keputusan. Kondisi tersebut semakin mungkin terjadi ketika pilihan semakin kompleks, keputusan semakin sulit, belum ada preferensi yang jelas ataupun berusaha meminimalkan usahanya dalam pengambilan keputusan.

Ini penting untuk dipahami karena choice overload dapat membuat kita cenderung mengalami decision fatigue, mengakibatkan penundaan pilihan, rasa tidak yakin pada pilihan yang diambil (yang dapat menyebabkan rendah diri atau sulit merasa puas), penyesalan, hingga terus berpindah dari satu pilihan ke pilihan lainnya. Sebagai contoh:

  • Orang yang ingin mulai berinvestasi, menemukan ada begitu banyak instrumen investasi. Dia mulai membandingkan satu dengan yang lain dari jenis, return dalam 1 tahun, 3 tahun, profil risiko, AUM, rating, review orang lain.
  • Mereka yang mendengar pentingnya asuransi, kemudian juga menemukan ada banyak penyedia jasa asuransi. Akhirnya dia membandingkan produk-produk yang ada, namun banyaknya pilihan dengan aturan yang berbeda, perjanjian yang berbeda, pilihan yang dapat dipilih untuk diasuransikan.

Kedua contoh ini menunjukkan bagaimana choice overload sering berakhir dengan “nanti deh, saya pelajari kembali” yang tak kunjung selesai

Dampak Decision Fatigue

Decision fatigue dapat berdampak berbeda-beda pada tiap orang, tidak semua orang menjadi boros dalam pengeluaran atau selalu menunda; setiap orang memiliki respons yang berbeda. Menunda keputusan, berperilaku impulsif, dan mengambil pilihan termudah adalah beberapa dampak yang umum terjadi

Dalam hal finansial, dampak decision fatigue seperti:

  • Belanja barang secara impulsif
  • Membeli barang hanya untuk menyenangkan hati tanpa keputusan yang baik
  • Lupa akan alasan memulai suatu instrumen investasi, hingga berujung panic selling
  • Menunda menggunakan asuransi akhirnya tidak kunjung terealisasi
  • Serta dampak-dampak lainnya.

Menyadari dampak ini membuat kita bisa mulai berfokus bukan hanya pada “keputusan mana yang paling benar?”, tetapi juga “dalam kondisi apa saya membuat keputusan ini?” Jika kita sudah pernah menghadapi kenyataan pahit akibat decision fatigue sebelumnya, kini saatnya menyadari: apakah saat ini saya sedang dalam kondisi yang baik untuk mengambil keputusan?

Seringkali kita berfokus pada dampaknya, namun lupa mengevaluasi apa yang membuat kita sampai mengambil keputusan tersebut. Refleksi yang bisa diambil: seringkali bukan perencanaan finansial kita yang buruk, namun kita sudah terlalu lelah saat dihadapkan pada keputusan finansial untuk diambil.

Hal lain yang penting disadari adalah apakah kita memiliki pola perilaku yang berulang. Penelitian oleh Yu (2026) menjelaskan bahwa perasaan tidak aman secara finansial membuat seseorang lebih sering memikirkan dan mengambil keputusan tentang uang, sehingga menyebabkan decision fatigue dalam hal keputusan finansial. Artinya, dampak decision fatigue bukan hanya dirasakan ketika kita mengambil satu keputusan kompleks, melainkan juga dapat muncul akibat terus-menerus memikirkan apa yang harus dilakukan mengenai kondisi finansial kita.

Perspektif YFD

Di Your Financial Doctor, kami melihat decision fatigue sebagai pengingat bahwa kualitas keputusan finansial tidak hanya ditentukan oleh baiknya sebuah rencana di atas kertas, tapi juga oleh kondisi mental seseorang saat keputusan itu diambil. Karena itu, pertanyaan yang kami dorong bukan sekadar “keputusan mana yang paling benar?”, melainkan “dalam kondisi apa saya sedang mengambil keputusan ini?”

Bagaimana Mengatasi Decision Fatigue?

  1. Membuat sistem yang baik

Sistem yang baik dapat mengurangi decision fatigue, sebab kita tidak lagi memutuskan pada saat diperhadapkan dengan suatu kejadian. Contohnya, jika kita sudah mengalokasikan 20% dari pendapatan untuk ditabung dan 30% untuk diinvestasikan, uang yang masuk langsung dialokasikan ke tempat yang sudah direncanakan, tanpa perlu berlama-lama memikirkannya.

Dalam perkembangan selanjutnya, bukan hanya arus masuk yang kita perhatikan namun juga kita lengkapi dengan sebuah tujuan. Misalnya ketika tabungan sudah mencapai 100juta, maka kemana kita akan mengalokasikan uang tersebut. Hal terpenting untuk menghindari decision fatigue: buatlah sistem di saat kita belum banyak memikirkan hal kompleks lainnya. Sistem yang baik juga membuat kita mampu menghindari godaan ketika godaan itu datang.

  1. Kurangi pilihan sebelum membandingkan

Salah satu penyebab decision fatigue adalah kelelahan setelah memilih dari banyaknya pilihan. Karena itu, mengurangi pilihan-pilihan yang ada sebelum benar-benar membandingkan akan membantu otak menghindari kelelahan.

Memilih dari 2 pilihan akan lebih mudah daripada memilih dari 10 pilihan.

  1. Jangan ambil keputusan besar ketika sudah lelah

Kelelahan adalah hal yang manusiawi, tidak ada manusia yang tidak lelah. Oleh sebab itu, dengan bijaksana kita yang memutuskan bahwa tidak ada keputusan finansial besar maupun keputusan besar lainnya yang terjadi ketika kita sedang ataupun sudah lelah. Sistem akan membantu mengurangi kelelahan, namun jika lelah itu sudah datang, akan lebih baik beristirahat daripada menyesal kemudian.

Self Control and Check Up

Pada akhirnya, kemampuan melihat ke dalam diri sendiri — mengenali pola-pola yang selama ini menjadi kelemahan kita — adalah nilai yang sangat baik. Jika kita merasa sering mengambil keputusan atau langkah yang buruk terkait finansial, lakukanlah check up untuk hal tersebut, karena keputusan yang baik akan memberikan dampak yang baik di kemudian hari. Salah satu faktor besar yang memengaruhi seberapa cepat kita kehabisan energi mengambil keputusan adalah kemampuan regulasi diri, yang akan kita bahas lebih dalam di artikel berikutnya: Self-Control dan Uang.


Artikel ini bertujuan edukasi umum dan bukan pengganti konsultasi finansial personal. Untuk memahami pola pengambilan keputusan finansial Anda secara lebih spesifik, Anda bisa melakukan Financial Health Check Up bersama tim YFD.

Referensi

Chernev, A., Böckenholt, U. and Goodman, J. (2015). ‘Choice overload: A conceptual review and meta-analysis’, Journal of Consumer Psychology, 25(2), pp. 333–358. doi: 10.1016/j.jcps.2014.08.002.

Maier, M., Powell, D., Murchie, P. and Allan, J.L. (2025). ‘Systematic review of the effects of decision fatigue in healthcare professionals on medical decision-making’, Health Psychology Review, 19(4), pp. 717–762. doi: 10.1080/17437199.2025.2513916.

Misuraca, R., Nixon, A. E., Miceli, S., Di Stefano, G., & Scaffidi Abbate, C. (2024). On the advantages and disadvantages of choice: future research directions in choice overload and its moderators. Frontiers in Psychology, 15, 1290359.

Pignatiello, G. A., Martin, R. J., & Hickman, R. L. (2020). Decision fatigue: A conceptual analysis. Journal of Health Psychology, 25(1), 123–135

Yu, X. (2026). Economic insecurity, decision fatigue, and positive wellbeing in digitally mediated financial decision environments. Frontiers in Psychology, 17, 1858489

chat