Bagaimana Emosi Mengendalikan Pengeluaran?
Mengapa kita sering membeli sesuatu bukan karena membutuhkan, tetapi karena emosi? Pelajari bagaimana retail therapy, trauma finansial, dan regulasi emosi memengaruhi keputusan belanja sehari-hari.
"Kita jarang benar-benar belanja untuk barangnya. Kita belanja untuk perasaan yang barang itu janjikan."
Di artikel sebelumnya kita membahas mengapa orang pintar tetap bisa bangkrut. Salah satu penyebabnya adalah pengalaman masa lalu yang membentuk hubungan seseorang dengan uang. Pertanyaannya sekarang, bagaimana sebenarnya emosi dapat mengendalikan pengeluaran kita?
Retail Therapy: Ketika Belanja Menjadi Obat
Istilah retail therapy bukan sekadar candaan. Ia menggambarkan perilaku membeli sesuatu bukan karena kebutuhan, melainkan sebagai cara memperbaiki suasana hati atau meredakan emosi negatif.
Penelitian Atalay dan Meloy (2011) menemukan bahwa banyak orang pernah membeli sesuatu hanya untuk merasa lebih baik. Bahkan penelitian dari University of Michigan menunjukkan bahwa rasa nyaman sering kali muncul bukan dari barang yang dibeli, tetapi dari proses mengambil keputusan belanja itu sendiri. Saat hidup terasa tidak terkendali, memilih sesuatu memberikan ilusi bahwa kita kembali memiliki kontrol.
Fenomena ini juga diperkuat oleh survei LendingTree. Sebagian besar responden mengaku pernah berbelanja karena emosi, dan sebagian di antaranya akhirnya terlilit utang akibat kebiasaan tersebut. Menariknya, pemicunya tidak hanya stres, tetapi juga rasa senang dan antusias.
Di YFD, kami percaya bahwa perilaku finansial tidak hanya dipengaruhi oleh seberapa banyak seseorang mengetahui teori keuangan. Keputusan finansial juga dipengaruhi oleh kemampuan mengenali, memahami, dan mengelola emosi yang muncul ketika berinteraksi dengan uang. Karena itu, memahami pola emosional menjadi bagian penting dari Financial Health, bukan sekadar tambahan.
Mengapa Perilaku Ini Bisa Berakar dari Masa Lalu?
Penelitian Richardson, Egglishaw, dan Sood (2024) menunjukkan bahwa trauma masa kecil dapat meningkatkan kecenderungan impulsive spending ketika dewasa melalui kesulitan dalam meregulasi emosi.
Salah satu bentuknya adalah pengalaman deprivasi. Ketika seseorang tumbuh dengan banyak larangan atau kekurangan, rasa "kurang" tersebut dapat terbawa hingga dewasa. Saat akhirnya memiliki penghasilan sendiri, muncul dorongan untuk "membalas" masa lalu melalui konsumsi yang berlebihan.
Penyanyi Toni Braxton pernah menceritakan pengalaman serupa. Setelah tumbuh dalam lingkungan yang sangat membatasi, ia mengaku kehilangan kendali terhadap kebiasaan belanjanya ketika mulai sukses. Bukan karena ia tidak cerdas, tetapi karena pola emosional terhadap uang telah terbentuk jauh sebelum kesuksesan datang.
Langkah yang Lebih Realistis
Daripada menyalahkan diri sendiri karena merasa memang "orangnya boros", langkah yang lebih membantu adalah mengenali polanya terlebih dahulu. Kapan biasanya Anda berbelanja bukan karena benar-benar membutuhkan, tetapi karena ingin merasa lebih baik, merasa memiliki kendali, atau mengisi kekosongan tertentu?
Perubahan perilaku hampir selalu dimulai dari kesadaran terhadap pola tersebut.
Ingin tahu pola regulasi diri finansial Anda secara lebih terukur? Financial Health Check Up dan instrumen yang sedang kami kembangkan di YFD, termasuk FTSA, dirancang untuk membantu memetakan ini — bukan sekadar mengukur seberapa banyak yang Anda tahu.
Artikel ini bertujuan untuk edukasi umum dan bukan pengganti konsultasi finansial personal. Untuk mengetahui kondisi Financial Health Anda secara spesifik, Anda dapat melakukan Financial Health Check Up bersama tim YFD.
Referensi
- Atalay, A. S., & Meloy, M. G. (2011). Retail therapy: A strategic effort to improve mood.
- University of Michigan. Research on consumer decision making and perceived control.
- LendingTree. Emotional Spending Survey.
- Richardson, T., Egglishaw, A., & Sood, M. (2024). Does childhood trauma predict impulsive spending in later life? Journal of Child & Adolescent Trauma, 17(2), 275–281.
- ABC News. (2012). Toni Braxton interview regarding financial bankruptcy.